GAZA dan ‘ASQALAN

Betapa pentingnya daratan di seberang perahu yang saya tumpangi 5 tahun lalu ini. Di sebelah Utara-Timur Laut adalah ‘Asqalan. Di sebelah Selatan-Barat Daya adalah Gaza.

Di ujung suatu hadits panjang tentang babak sejarah yang dilalui ummat, Rasulullah bersabda:

فعليكم بالجهاد وإن أفضل جهادكم الرباط وإن أفضل رباطكم عسقلان

“Maka atas kalian kewajiban berjihad, dan sesungguhnya jihad kalian yang paling utama adalah ribath menjaga perbatasan, dan sesungguhnya ribath kalian yang paling utama adalah di ‘Asqalan.” (HR Ath Thabrani, sanadnya shahih menurut Al Albani)

Berdasar penggalian, Gaza dan ‘Asqalan telah dihuni sejak masa prasejarah. Teks pertama yang menyebut wilayah ‘Asqalan berasal dari Abad XIX sebelum Masehi di Mesir. Gaza yang berjarak 12 mil darinya, semenjak dibebaskan dan menjadi kota Islam sampai terjadinya Perang salib adalah bagian dari ‘Asqalan. Itulah mengapa ada yang menyebut Imam Asy Syafi’i lahir di Gaza, dicatat pula di ‘Asqalan.

“Adapun ‘Asqalan”, catat Ibn Taimiyah, “Termasuk wilayah perbatasan kaum muslimin, karenanya banyak orang-orang shalih dari ummat ini yang bertempat tinggal di sana dalam rangka untuk ribath di jalan Allah.”

Suatu bakda Shubuh dalam sebuah Masjid di Kota Gaza, saya duduk bersama wajah-wajah asing namun berhati akrab. Satu persatu dibimbing seorang Syaikh bergelar Doktor Ilmu Quran lulusan Damaskus kami bertilawah.

Berbincang hangat seusainya, saya kian faham bahwa Al Qur’an adalah ruh perjuangan mereka, bertahun-tahun bertahan dalam kepungan. Ada halaqah Quran di semua Masjid; Shubuh untuk kaum pria, bakda ‘Ashr untuk kaum Ibu dan anak perempuan, bakda Maghrib untuk anak-anak lelaki. Sudut-sudut setoran tilawah ada di Klinik, Apotik, hingga pojok Pusat Perbelanjaan.

Empatpuluhribu Huffazh melayani 1600 lokasi penumbuhan cinta kepada Al Qur’an; tahsinnya, hafalannya, tafsirnya, dan tadabburnya.

“Ya Akhi, ambillah pelajaran dari kami”, ujar seorang pemuda Gaza kepada saya. “Kami dahulu meninggalkan Al Qur’an, maka Allahpun tak mempedulikan kami, membiarkan kami hina di kaki para penjajah itu, terpuruk ternista. Ada yang mencari kemuliaan dengan harta, jabatan, maupun senjata. Tapi semua kian menambah nestapa.”

“Hingga Allah mengaruniakan kepada kami nikmat yang sangat besar. Seorang tua yang
lumpuh tubuhnya tapi jernih hatinya, mengajak kami ke masjid, membaca Al Qur’an, memperbaiki tajwid, mengkaji tafsirnya dan mengkaji sirah Rasulillah. Maka kalian lihat orang yang hari itu diketawakan oleh para penenteng senjata tapi tanpa Al Qur’an, hari ini kami bisa berdiri tegak, tersenyum manis, melangkah tegap, semua karena kami kembali bermesra dengan Kalamullah.“

“Jalan menuju Masjidil Aqsha adalah keridhaan Allah”, ujar Ismail Haniyah, murid lelaki lumpuh itu. Dengan Al Quran mereka memulai jalan itu, dari tempat ribath yang ditunjuk oleh Rasulullah ﷺ.