BINATANG

“Dialah Dzat yang menciptaku, maka Dia yang memberi petunjuk padaku.” (QS Asy Syu’ara: 78)

Sudah berapa film tentang ET dan alien yang kita tonton? Mari sejenak perhatikan, adakah makhluq bumi maupun planet galaksi asing yang digambarkan di sana lebih indah daripada manusia?

Tidak ada.

Rupanya kita memang tak mampu membayangkan suatu wujud yang lebih jelita dari penciptaan manusia.

“…Dan Dia membentuk rupa kalian, maka Dia perbagus perupaan kalian…” (QS Ghafir: 64)

Rambut yang tumbuh berkilau, mata yang bening dan bayangan seisi dunia dapat ditangkap retinanya, lubang hidung yang menyerap zat asam lalu dibawa ke paru untuk dititip pada darah agar terhantar menjadi daya hidup tiap sel, lisan yang disegel ganda dengan 2 bibir dan 2 baris gigi, telinga yang merambatkan getar suara lalu meresonansi gendang hingga tetiba terbentuk suatu konsep di benak kita, gerak maupun diam yang melibatkan serat otot dan serabut syaraf berjuta-juta. Menakjubkan.

Dan lebih menakjubkan bahwa semua itu berasal dari benih yang turun dari sulbi lelaki, bercampur sebagai percik nuthfah dan dilekatkan sebagai ‘alaqah yang terus membelah dalam rahim kokoh perempuan, berlipat-lipat ia menjadi gumpalan mudghah yang lalu ditumbuhi ‘izham, dari sumbu tengah tubuh hingga tulang-belulang rawan dan sejati, dan dibungkus ia dengan daging yang menjadi alat gerak perkasa. Semua itu dalam proporsi yang amat sempurna.

“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam proporsi paling sempurna.” (QS At Tin: 4)

Tapi jika tanpa petunjuk Allah, sungguh kita akan lebih hina daripada binatang. Calon ayam, namanya telur, laku dijual. Tapi ke pasar membawa calon manusia, duh aneh kiranya. Keluaran sapi, bertruk-truk setiap hari dibawa ke perkebunan sayur. Kalau ada truk berisi keluaran manusia, ia salah alamat. Liur burung dibuat sup seharga ratusan ribu semangkuk. Liur manusia tak diterima penjualnya. Jika kambing remaja nakal menghamili betina tetangganya, pemilik kambing justru bahagia. Jika nakal manusianya? Ah, usah ditanya.

“Kemudian Kami kembalikan ia pada kehinaan yang serendah-rendahnya.” (QS At Tin: 5)

Maka setelah agungnya penciptaan, betapa berhajatnya kita pada petunjuk Allah, sebagaimana terungkap dalam kalimat Ibrahim di awal perbincangan. Maka sekurang-kurangnya 17 kali sehari kita berbisik padaNya, “Ihdinash shirathal mustaqim.” Tanpa hidayah yang membuat kita mempergunakan segala indera di jalan yang benar, kita terpuruk lebih nista dari kebinatangan.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mereka mempunyai mata tapi tidak dipergunakan untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tapi tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al A’raaf: 179)

Duhai kuda dan keledai, betapa ragunya hati bahwa kami ini lebih baik darimu. Hanya doa bercermin menjadi harapan, “Alhamdulillah. Allahumma kama ahsanta khalqi, fa-ahsin khuluqi.”