BAHAGIALAH

Betapapun tertatih, mari belajar tuk mengalihkan sebab kebahagiaan kita, dari benda-benda menuju ketaatan dan segala yang bernilai ibadah padaNya. Demikian pula dalam kehidupan keluarga.

Berbahagialah suami dan ayah; yang memastikan tiap suapan ke mulut istri-anak dan segala yang dikenakan, halal thayyib tak meragukan. Berbahagialah yang membimbing istri dan anak mengulang hafalan, mentadaburi Al-Qur`an, mengisah penuh cinta sirah Nabi dan kisah sahabat. Berbahagialah yang khusyuk menangis mendoakan keselamatan, keberkahan, kebaikan anak-istri dan segenap keturunan.

Berbahagialah suami dan ayah; yang mengecup dengan doa perlindungan dan cinta saat istri-anaknya lelap tidur, demikian pula saat berpamit bepergian. Berbahagialah yang bersyukur dan mentakjubi kemajuan istri dan anak dalam berkebaikan, lalu menghadirkan peluk, doa, serta hadiah sederhana. Berbahagialah yang jadi kebanggaan anak-istrinya; tapi tak menumpulkan pengembangan diri mereka dalam hidup berbakti. Tanggung jawab suami dan ayah demikian agung. Seakan saat istri dinikahi dan anak dilahirkan, mereka bertitah tegas, “Bawalah kami ke surga!”

Bahwa ada kisah Nuh dengan istri dan anak yang durhaka, itu penyadar bahwa suami dan ayah memang tiada punya kuasa atas jiwa yang dicinta. Bahwa hidayah bukan dia, hatta pun seorang Nabi. Hanya Allah yang Maha Kuasa membolak-balikkan hati. Yang kita pertanggungjawabkan memang ikhtiyar kita, bukan hasilnya. Tapi jadi naiflah ayah dan suami yang berlindung di balik nama agung Nuh dan Luth misalnya, tanpa upaya meluangkan saat berharga tuk keluarga.

Agung pula para istri dalam perjuangannya untuk menjadi Shalihat, Qanitat, Hafizhat. Bagi suami; mereka adalah penggenap separuh agama, penjaga ketaatan, tempat berlari dari yang haram dan keji menuju yang berkah lagi suci. Maka para istri itu tahu; untuk siapa mereka berdandan dan mempercantik diri; tersenyum dan penuh pemuliaan menyambut kepulangan. Pada cium tangan penuh ta’zhim dan air mata yang haru, bisik mereka mesra, “Berangkatlah menjemput rizqi Allah suamiku tersayang; ketahuilah bahwa kami lebih sabar dalam berlapar daripada harus menanggung ‘adzab yang besar!”