AKU titip JAYAKARTA

Aku titip Jayakarta pada berdiri tegakmu di hadapan Rabb semesta alam..

Agar anak-anak kita tak salah kira; seakan sabda Rasulullah, “Jangan marah.. Jangan marah.. Jangan marah.. Maka bagimu surga”, telah tak lagi berguna.

Aku titip Jayakarta pada ruku’ tundukmu di hadapan Rabb Yang Maha Perkasa..

Agar anak-anak kita tak keliru mengerti; seakan menyebabkan terusir, kehilangan, dan nestapanya orang-orang lemah demi senyum beberapa yang berharta dan berkuasa itu terpuji.

Aku titip Jayakarta pada sujud syahdumu di hadapan Rabb Yang Maha Adil..

Agar anak-anak kita tak luput berkesimpulan; seakan semua pelanggaran dan kesalahan dapat diredam dengan memperbanyak suara-suara dukungan dan perundungan pada lawan melalui gerilya maya yang digerakkan.

Aku titip Jayakarta pada duduk khusyu’mu di hadapan Rabb Yang Maha Kuasa..

Agar anak-anak kita tak gagap menangkap; seakan berlaku sombong dan sewenang-wenang beroleh pembenaran semesta padahal hanya karena penguasa dan pengusaha berdiri di belakangnya.

Aku titip Jayakarta pada tahiyat sendumu di hadapan Rabb Yang Maha Pemurah..

Agar anak-anak kita tak gagal faham; seakan mengingkari janji, menjilat ludah sendiri, dan mengkhianati kawan itu sah-sah saja selama ada yang membela melalui koran, majalah, dan televisi.

Aku titip Jayakarta pada uluk salammu yang tulus..

Katakanlah: “Duhai Rabb Pemilik segala kemaharajaan. Engkau berikan kekuasaan itu pada siapapun yang Kaukehendaki, Kaucabut pula kekuasaan itu dari siapapun yang Kauinginkan. Kaumuliakan siapa yang Kaukehendaki, dan Kauhinakan siapapun yang Kauinginkan. Di tanganMulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Aku titip Jayakarta pada rakyatnya ketika hari-hari ini uang dan beras ditebar dengan telanjang, dengan perlindungan seragam yang kentara belang. Oh, sungguh, yang menaburnya hendak membeli jiwa-jiwa merdeka dengan harga murah.

Maka dari hati ini kami katakan, “Jika memang Bapak/Ibu, Nyak/Babe, Abah/Emak, dan Kangmas/Mbakyu semua memerlukannya, ambil itu pembagian. Jika hajat memang mendesak, ambil dan jangan sungkan! Tapi demi Allah jangan pilih calon yang mereka tawarkan. Sungguh yang mampu menghujani ibukota dengan harta sedemikian deras, pasti telah merampas begitu banyak dari negeri dan rakyat ini dengan cara-cara nista dan tak layak. Ambil dari tangan si batil, dan jangan takut memilih yang haq; biarkan mereka menggigit jari di dunia dan akhirat.”

Dan kami titip Jayakarta pula, sepenuh hormat pada Bapak/Ibu, Nyak/Babe, Abah/Emak, dan Kangmas/Mbakyu semua yang tak sudi menerima remah-remah hina para pembeli suara. Semoga dengan kehormatan kalian, Jayakarta kembali pada sepenuh makna Fathan Mubiina.