MEMIRINGKAN KEPALA

Dua hal yang kusesali dalam hidup ini.
Siang-siang nan terik tanpa tanpa kesejukan puasa.
Dan malam-malam yang dingin tanpa kehangatan tahajjud.

(‘Abdullah ibn ‘Umar, Radhiyallaahu ‘Anhumaa)

Ibnu ‘Umar adalah tauladan tentang bagaimana mengetatkan diri dalam menjalani sunnah Nabi ﷺ. “Tiada pernah kulihat orang yang sangat kuat berpegang dalam urusan sunnah ini”, demikian Ibunda kita ‘Aisyah bersaksi, “Yang seperti ‘Abdullah ibn ‘Umar.”

Nafi’, bekas sahaya sekaligus murid kesayangannya menceritakan bahwa dalam perjalanan haji, Ibn ‘Umar selalu memiringkan kepala di sebuah wahah yang dulu di situ Rasulullah ﷺ memiringkan kepala, karena sebuah pokok pohon yang miring menghalangi jalan untanya. Ibn ‘Umar akan terus memiringkan kepalanya, meski pohonnya sudah tiada lagi di sana.

Termaktub dalam Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim, Ibnu Umar senantiasa mengikuti jejak-jejak Rasulullah ﷺ pada tempat yang beliau shalat padanya. Adalah Nabi ﷺ pernah turun dari kendaraan ke bawah sebuah pohon, maka Ibnu ‘Umarpun menjaga pohon tersebut. Dia menuangkan air pada akar pohon tersebut supaya tidak kering.

Kembali ke soal memiringkan kepala, ayahandanya juga punya cerita yang agak berbeda. Pada suatu hari, ‘Umar ibn Al Khaththab naik ke mimbar dan berkhuthbah, “Wahai, kaum muslimin! Apakah tindakanmu apabila aku memiringkan kepalaku ke arah dunia seperti ini?”

Lalu beliaupun memiringkan kepalanya.

Seorang sahabat menghunus pedang dan mengacungkannya kemudian berkata, “Wahai Amirul Mukminin, kami akan meluruskanmu dengan ini.”

“Semoga Allah merahmatimu!”, ujar sang Khalifah. “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara rakyatku orang yang apabila aku menyimpang niscaya dia akan meluruskan aku.”
_________
Kalau yang memiringkan kepala di sebelah kiri gambar ini, semata karena tuntutan para jama’ah zaman now yang mengajak berswafoto.😂
Mohon Shalih(in+at) bermurah hati mendoakan, semoga Allah selalu mengampuni.