PANGERAN DJONET

Pemuda berusia 15 tahun itu menyaksikan bagaimana Ayahnya dijebak muslihat Jenderal De Kock. Dia tahu, Ayahnya geram. Lengan kursi yang diduduki beliau sampai remuk diremas menahan murka. Tapi Dipanegara adalah ksatria Mataram sejati, takkan bertindak khianat dengan membunuh musuh di meja perundingan yang bahkan dia anggap sebagai ramah tamah Lebaran. Tetap tegar dengan seulas senyum manis, Dipanegara memasuki kereta yang …