PADUAN PESONA

Sejak wafatnya Nabi ﷺ, tiada lagi pribadi tunggal yang menjadi pancaran pesona Islam secara paripurna.

Hatta insan dengan iman yang jika ditimbang melampaui orang sejagat, Abu Bakr; tetap harus dipadu pesonanya dengan ‘Umar ibn Al Khaththab. Orang lembut akan jadi lembek jika tak hati-hati. Syukurlah Abu Bakr teguh. Dan orang keras akan jadi kejam jika tak terkendali. Tapi ‘Umar amat kasih pada yang dipimpin.

Si lembut yang teguh dan si keras yang penyayang adalah paduan pesona itu. “Iqtaduu billadzaini min ba’dii”, ujar Nabi ﷺ, “Berqudwahlah dengan 2 orang sepeninggalku; Abu Bakr dan ‘Umar.”

Ya, tiap-tiap kita yang merasa begitu sukar meniru kesempurnaan multidimensi Sang Nabi; kadang harus mengidentifikasi diri, lebih dekat ke watak Abu Bakr atau ‘Umar; lalu meneladani Rasulullah ﷺ melalui mereka. Atau jika hendak lengkap tambahkan pilihan ‘Utsman dan ‘Ali, siapa yang lebih mirip dengan karakternya, kemudian teladani Sang Nabi ﷺ melalui mereka. Lebih bertambah lagi juga dengan memasukkan 10 sahabat yang dijanjikan surga sejak hidupnya.

Dalam dakwah, paduan pesona itu juga amat diperlukan. Maka ketika Mush’ab ibn ‘Umair diutus menjadi Duta Islam ke Yatsrib, dia didampingi seorang lain yang tak kalah dahsyat; ‘Abdullah ibn Ummi Maktum, si buta yang membuat sang Nabi ﷺ ditegur Rabbnya.

Mush’ab memikat orang ke dalam Islam dengan pesona wajah, senyum, bahasa tubuh, kata-kata, dan kehangatan tablighnya. Sesudah itu, Ibn Ummi Maktum yang bertekun-tekun mentarbiyah dengan ayat-ayat, tazkiyyatun nafs, dan ta’limnya.

Tentu semakin jauh kita dari generasi Salafush Shalih; makin rombeng-rombeng pribadi masing kita, dan makin redup pula pesona setiap diri. Makin banyak paduan yang diperlukan untuk mencahayakan risalah suci ini agar terangnya sampai ke sudut-sudut tergelap.

Jazaakumullaahu khayran @muslimunited.official yang telah memulai ikhtiar untuk kian mempertautkan berbagai anasir demi kegemilangan ummat. Perbedaan yang dapat dihitung takkan membatalkan kesamaan yang tak terbilang, perbedaan cabang tak boleh menafikan kesatuan pada akar dan batang.

Contoh perbedaan cabang; Nda @felixsiauw yang suka baju sunggingannya disebut batik, Mas @cahyoahmadirsyad yang batiknya entah gagrak mana tetap tak bisa menutupi kesepuhannya, dan saya pencinta batik. Yang penting hati kami sama-sama cinta pakaian taqwa; bersama pula Habibana @binanies, Koko @steven.indra.wibowo yang nggak pakai baju koko, dan Mas @rizalarmada yang sedang hobi membully jomblo.😄