KEHORMATAN Seorang PUTRI

Saya hanya mendengar kisah yang diceritakannya dengan mesra bertahun lalu ketika kami beperjalanan berdua. Dia, gadis yang dilahirkan di lereng Lawu; saat itu harus mempertahankan agar jilbab yang dikenakannya boleh dipakai bersekolah, terutama ketika praktikum di laboratorium dan saat ujian. Sebuah sekolah menengah farmasi, dengan jadwal yang amat ketat, dan laboran yang sulit berkompromi.

Sampai dia harus pergi ke ibukota propinsi, menghadap pejabat wilayah kementerian pendidikan sekaligus kementerian kesehatan; melobi, meminta rekomendasi. Kisah yang amat pahalawati, dengan bekal yang nyaris tak cukup untuk transportasi pulang saat itu, dengan keyakinan yang mengundang keajaiban.

Dwi Indah Ratnawati namanya. Tentu hanya satu di antara pejuang jilbab pada zamannya; yang sebagian pendahulunya bahkan lebih rela keluar dari sekolah favorit, demi mempertahankan selembar kain yang menyimbolkan hadiah hidayah dari Pencipta Bumi dan Langit. Saya menyebut Dwi Indah Ratnawati, tentu karena ia amat tercinta; ibu dari Hilma Mumtaza Fillah, Nawwaf Muharrik, dan Jaisyan Mabruri Fillah anak saya.

Bagian pegangan keris ala Yogyakarta ini disebut ‘deder’, sebab ia adalah pegangan, seperti iman, yang ‘dideder’, ditanam agar tumbuh, berakar, dan mekar. Ialah kalimah thayyibah, yang memberikan buah nan harum, lembut, dan manis di tiap musim dengan izin Rabbnya. Jika keris adalah lambang ibadah yang ‘sinengker’, disembunyikan, maka deder adalah perwujudannya sebagai akhlaq mulia pada sesama.

Adapun hulu gaya Surakarta yang lebih besar dan lengkung disebut ‘jejeran’, karena ia berdiri tegak mewakili sosok keris ketika tampil bersama warangka. Saat itulah keduanya tampak sebagai ‘Baita Tinitihan Janma’, manusia yang menaiki perahu, sebagai perumpamaan kehidupan. Kita ingat ucapan Salafush Shalih, “Sunnah bagaikan perahu Nuh. Siapa menaikinya akan selamat. Siapa menolak ikut kan binasa.”

Ukiran yang dipahat indah di atas deder ini disebut ‘Putri Kinurung’, yang berarti putri nan dipingit, dihijab untuk dijaga dari segala bahaya. Mengenang perjuangan Dwi Indah Ratnawati, seindah menyeksamai Putri Kinurung, kecantikan yang terlindung.