BERHITUNG (Bag. 1)

D وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَى

“..Dan tidaklah sama laki-laki dan perempuan..” (QS Ali ‘Imran: 36)

Di antara perbedaan antara pria dan wanita barangkali tidaklah sejauh anggapan bahwa yang satu senantiasa berlogika dan yang lain hanya mengedepankan perasaan. Tinjauan yang lebih sederhana salah satunya adalah bahwa lelaki itu berhitung, sementara perempuan tidak.

“Jika aku sudah menyerahkan sebagian besar waktuku untuk bersama denganmu”, kata hati lelaki, “Maka aku berhak atas sedikit waktu untuk diriku sendiri.” Itulah mengapa konon “Boys will be boys”, ada bagian lelaki yang selalu kanak-kanak, ada naluri bermain dan menuruti hobi. Padahal wanita tidak berhitung. “Jika kau mencintaiku, buktinya adalah kebersamaan yang selalu, berbagi hati yang tak kenal henti.”

Padahal konon lelaki memang selalu perlu waktu untuk menyendiri, berkontemplasi, dan merumuskan solusi atas segala yang dihadapi. Itulah mengapa Ibrahim ‘Alaihissalaam speechless tak dapat menjawab pertanyaan “Mengapa kautinggalkan kami?” dari Hajar. Itulah mengapa Muhammad ﷺ menyepi di Hira’, dan sepulangnya dalam gigil, pucat, dan keringat dinginnya beliau ﷺ minta adalah bilik, pembaringan, dan selimut. Itulah mengapa beliau ﷺ asingkan diri dari istri-istrinya dengan muram durja, ketika mereka menuntut tambahan nafkah padanya. Itulah mengapa Sayyidina ‘Ali memilih tidur di emperan Masjid hingga berdebu ketika Sayyidah Fathimah marah.

Tetapi lelaki berhitung. Jika ia merasa telah mengambil waktu untuk dirinya, dia lalu akan kembali pada para tercinta dengan kasih dan perbuatan tulus yang lebih besar dari sebelumnya. Sebakda dia legakan diri, atau jalani hobi, maka hatinya terasa penuh. Lalu akan dia tumpah ruahkan perhatian untuk yang disayanginya.

Lelaki berhitung. Perempuan tidak. Juga dalam kesalahan.

“Jika aku terlambat 20 menit, seharusnya kau tak semarah jika keterlambatanku 2 jam”, kata lelaki. “Terlambat adalah terlambat”, ujar perempuan. “Lima menit ataupun 5 jam tanpa memberi kabar adalah sama-sama pelanggaran. Pelanggaran yang menyakitkan.”

Maka jika seorang lelaki melakukan kesalahan, dan dia berjanji untuk berubah; bagi seorang perempuan perubahan itu harus menyeluruh dan tak bercelah. Sering upaya untuk menjadi lebih baiknya nyaris melahirkan putus asa, karena kesalahan yang lebih kecil setelah janji terucap ditanggapi dengan kemarahan yang sama dengan kesalahan nan jauh lebih besar sebelumnya. Yah, lelaki berhitung. Perempuan tidak.

Maka yang menyakitkan bagi lelaki adalah, dia telah berusaha, tapi dianggap tak berbeda. Dia telah maju beberapa langkah, tapi dianggap belum ada upaya apapun karena belum sampai finish. Dia telah mendaki sampai ke lereng, tapi dianggap sama sekali belum ke gunung.

Soal berhitung inilah yang barangkali diingatkan Rasulullah dalam salah satu sabdanya tentang sebab wanita menjadi penghuni neraka, yakni kekufurannya.

Para sahabat bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalau engkau berbuat baik kepada seorang diantara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.” (HR Al Bukhari, shahih no 1052)

Lelaki berhitung, sayangnya perempuan tidak. Maka jika ingin mematahkan hati seorang pria, mudah caranya. Anggaplah dia tak berguna dan tak bermakna. Anggaplah dia tiada, padahal ada di sana. Anggaplah dia tak berbuat apa-apa, meski telah melakukan sejauh yang dia bisa. Anggaplah dia tak berubah, padahal telah banyak yang ditinggalkannya. Anggaplah dia salah total, sedangkan dia benar sebagian. Anggaplah dia melanggar sempurna, sedang dia gagal menaati beberapa. Ungkitlah selalu keburukannya yang dulu, untuk menghakiminya atas kealpaan yang sekarang.

Bagi perempuan, kesalahan adalah kegagalan. Sayangnya lelaki berharap, salah tiga masih dapat tujuh.