TESLA (1)

“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang terkemudian.” (QS Asy Syu’araa: 84)

Selalu menakjubkan pribadi Ibrahim, ‘Alaihissalaam. Berapa orang yang kenal, yang sayang, dan yang mendoakan selama beliau hidup?

Sedikit.

Tapi hari ini, berapa ratus juta manusia yang di tiap tasyahudnya berkata, “Kamaa shallaita ‘alaa Sayyidina Ibrahim, wa ‘alaa Aali Ibrahim”? Tapi hari ini, berapa juta manusia yang menyambut panggilannnya setiap tahun ke Baitullah, berapa puluh juta pula yang mengantri memenuhinya? Dan berapa juta kambing, lembu, dan unta yang mendapat kehormatan menjadi qurban, sarana ittiba’ dan menghayati kehambaan yang diwariskan Ibrahim?

Memang kita sebagai orang beriman harus lebih ingin terkenal di langit daripada di bumi, ingin lebih banyak disebut Allah kepada para makhluq mulia di sisinya daripada dimasyhurkan orang pada khalayak dunia. Betapa harapnya hati bahwa Allah memanggil Jibril dan berkata, “Sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah olehmu Fulan karena Aku”, lalu Jibril pun bersabda pada segenap penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, dan aku mencintai Fulan karena Allah, maka cintailah oleh kalian si Fulan.”

Hanya soal waktu, hingga akhirnya cinta itu turun ke dunia, menbuat hamba-hamba mendoa ketika disebut nama kita, meski diri telah tiada. Ah betapa indahnya.

Di dunia yang tak bicara imanpun, ada waktu bagi yang bermanfaat untuk bertahan lama, meski awalnya ia tenggelam atau dibenamkan, ada saatnya untuk muncul dan menjulang.

“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS Ar Ra’d: 17)

Salah satu nama itu barangkali Nikola Tesla. Lelaki jenius ini memegang 1200 paten, menemukan listrik AC yang memungkinkan transmisinya di zaman kita, bahkan konon menemukan cara mentransmisikan listrik tanpa kabel, tapi dia khawatir temuannya itu malah disalahgunakan untuk kepentingan perang. Maka dia membakar semua temuan beserta berkas-berkasnya saat itu. Dia juga konon menemukan cara untuk membunuh orang hanya dengan suara (mengingatkan kita tentang kaum Tsamud). Tapi sekali lagi, temuan itu pun dimusnahkan dengan alasan yang sama.

Semua kontribusi Tesla bagi peradaban, tenggelam oleh niat baiknya untuk terus membagikan temuan bagi kemaslahatan manusia tanpa memedulikan uang. Tesla dikalahkan oleh para pemilik modal yang lebih mendukung seorang jenius lain; Thomas Alva Edison.

Kemarin, saya mengenang Nikola Tesla di depan Tesla Model S, mobil listrik yang dikembangkan perusahaan yang digawangi si nyentrik Elon Musk.

(Bersambung)