PANGERAN DJONET

Pemuda berusia 15 tahun itu menyaksikan bagaimana Ayahnya dijebak muslihat Jenderal De Kock. Dia tahu, Ayahnya geram. Lengan kursi yang diduduki beliau sampai remuk diremas menahan murka. Tapi Dipanegara adalah ksatria Mataram sejati, takkan bertindak khianat dengan membunuh musuh di meja perundingan yang bahkan dia anggap sebagai ramah tamah Lebaran.

Tetap tegar dengan seulas senyum manis, Dipanegara memasuki kereta yang membawanya ke Semarang. Pangeran Djonet, sang putra, disertai beberapa pengiring setia diam-diam membuntuti ke Semarang. Nyaris tanpa istirahat mereka menyusur jalan perbukitan dari Kedu, Jambu, hingga lereng Gunung Ungaran dan terus ke pelabuhan.

Dengan keberanian luar biasa, Pangeran remaja itu menyelinap ke dalam fregat “Rupel” yang disiapkan untuk membawa Ayahnya ke Batavia. Malang, dia kepergok beberapa serdadu di atas kapal yang tiga bulan lalu juga mengangkut Gubernur Jenderal Johannes Van den Bosch dari Amsterdam itu. Beberapa tembakan berhasil dia hindari sebelum akhirnya terpaksa menceburkan diri ke laut.

Tembakan salak-menyalak memberondongnya di dalam air.

Ajaib. Pangeran muda itu selamat dan bahkan meneruskan perjalanan lewat darat untuk berjumpa Ayahnya di Batavia. Tahanan ketat Stadhuis berusaha dia tembus untuk membuat kontak dengan Ayahnya. Tapi akhirnya, jarak akan memisahkan mereka ketika Dipanegara diberangkatkan ke Manado dengan fregat bernama lambung “Pollux”.

Pangeran Djonet lalu menyamar dan tinggal di Matraman, menjadi Imam di Masjid Jami’ yang dirintis pasukan moyangnya, Sultan Agung ketika menyerbu Batavia pada 1628-1629. Djonet bahkan memugar pula Masjid itu menjadi lebih besar karena jama’ahnya kian makmur.

Ketika keberadaannya terendus, Djonet berpindah ke Condet dan terus mengajar mengaji di sana. Untuk menghindari kejaran, Djonet pindah lagi ke kawasan Pasar Minggu sekarang. Seorang gadis Tionghoa bermarga Nio dibimbingnya masuk Islam lalu dinikahinya sebagai Nyimas Siti Fatmah.

Pasangan pejuang dakwah ini lalu hijrah ke Bogor dan mengabdikan diri untuk syiar Islam dengan dukungan seorang Pangeran dari Sumedang Larang. Beliau wafat dan dimakamkan di Cikaret, Bogor.

Sinebar sekar kemuning, seperti dikatakan Kangmas Roni Sodewo, keturunan Pangeran Dipanegara menebarkan harum dan cantiknya syiar ke berbagai penjuru bumi. Pangeran Djonet Dipamenggala, putra Dipanegara dari Raden Ayu Maduretno, yang berarti adalah cucu Raden Rangga Prawiradirja III Madiun dari pernikahan dengan putri Sultan Hamengku Buwana II. Dengan begitu, Djonet juga keponakan dari panglima belia nan hebat, Sentot Alibasah Prawiradirja.

Rahimahumullaah.