Duka Sang DIPA Sedalam Cintanya pada NEGARA

(dimuat dalam buku ‘DUKA SEDALAM CINTA’, Kumpulan Puisi Helvy Tiana Rosa)

kau lahir disambut firasat kakek buyutmu yang pejuang
duhai jabang, kau akan menghadiahkan kerusakan pada kuasa rambut-rambut pirang
dua kali lipat dari sembilan tahunku berperang…

maka nenek buyutmu, sang nusaibah dari bima
merengkuhmu ke lengannya yang terampil merentang gandewa
dia timang engkau dengan doa
dia senandungkan untukmu ayat jihadnya
dia dendangkan tembang kepahlawanan wangsa mataram
dari sultan agung hingga mangkubumi yang didampinginya gerilya
kala hamil hingga melahirkan kakekmu di lereng sindara…

mujahidah shalihah ratu ageng membawamu ke tegalreja
keluar dari kasak-kusuk hiruk-pikuk berebut busuk
menghindar dari mewah-megah foya andrawina
menjauh dari keraton yang berubah di bawah sultan kedua
lalu bertani dan mengaji bersama rakyat dan santri…

o, bagaimana dukamu menyaksikan eyang sultan dan ayahmu putra mahkota diadu domba
o, bagaimana cintamu pada keduanya telah melipatkan sungkawa
o, bagaimana nestapa kau saksikan daendels mengacak tata dan mengacau nayaka
o, bagaimana pedih perih melihat yogyakarta bedah
sementara gillespie dan laskar bengali menjarah
di bawah arahan raffles yang berkacak pongah
juga khianat tan jing sing yang menuba darah…

selarong, gua hira tanah jawa
kahfi sriti, jabal tsurnya nusantara
hutan-hutan yang sunyi dan singup telah kausemarakkan sejak tegalreja dibakar
dengan berdirimu di malam, sujudmu yang dalam
lalu kyai maja membacakan ikrar bai’at
bersama berribu ‘ulama dan santri-santri taat
bersetia membangun luhurnya Islam dengan jihad…

kau ingkang sinuhun kangjeng sultan abdul hamid…
kau herucakra kabirul mukminin khalifatu rasulillah…
kau sayidin ratu paneteg panatagama…

dukamu cintamu menyatu meledak bersama kepul debu kyai gentayu
ketika tali kekang kau ikat ke pinggang
bersama turkiya arkiya bulkiya kudamu menerjang
dan jubah putih yang menzamrudkan surban hijau mengafani dua ratus ribu nyawa…

bangkrutlah batavia, tewas lima belas ribu serdadunya, amsterdam dicekau galau, dan tanpa kautahu belgiapun merdeka…

dukamu cintamu menyatu meledak bersama kepul debu kyai gentayu
bahkan ketika kepungan musuh kian rapat
medan yang membentang dari banyumas hingga malang dengan 200 benteng disekat-sekat
dan para senapati pahlawanmu satu-persatu gugur atau layu
kau masih seberangi praga dan bagawanta
berkelana dalam kejaran sepuluh kesatuan raksasa
dicekik malaria hanya ditemani dua panakawan setia
mengunyah akar-akaran dan menjolok buah masam…

duhai hijrah, apa yang dulu kautinggalkan untuk memilih jalan ini
sebuah puri dengan ratusan pelayan dan 70 pekatik pengurus kuda-kuda
taman dan perbendaharaan juga tanah jabatan dengan kawula setia mencinta
sawah-sawah yang menghasilkan ribuan pikul beras sekali panen
kereta mandrajuwala yang membuat semua pangeran lain melirik cemburu
dan tentu, takhta yang berulangkali ditawarkan ayahmu…

duhai pangeran dengan duka sedalam cinta
tahukah kau kala para durjana merancang tipu daya nista
sementara kau memasrahkan diri pada takdir
telah lima tahun dan jangan lagi ada darah mengalir
sebab kau tata ulang niat dalam goda yang hampir…

jenderal justa itu bisa saja kaubunuh, tapi kemuliaan sebagai mukmin mencegahmu rusuh…

jalanmu kian merentang setelah kereta tahanan berguncang antara magelang dan semarang
empat puluh hari dari batavia kau arungi lautan sepi
di manado, sunyi penjara membuat rambut jatuh terdengar nyaring
duhai siksaan, ketika hati merindu makkah, tapi seluruh jiwa dihempas ke tanah
dan hati ditabiri dari ukhuwah seperjuangan serta kasih handai taulan…

di situ kautuliskan babadmu berhalaman seribu
di antara tembok berlumut dan lantai batu
jeruji berkarat dan debu-debu
maka kian hari bagi penjajah
namamu hanya berarti satu kata, “bahaya” sudah
duka sedalam cintamu akhirnya dilarak ke ujung pandang
tempat kau ibadahi Rabbmu hingga sang yaqin datang…

inilah salam doa kami duhai jiwa yang tenang
kembalilah kepada Pencipta dalam ridha nan disayang
semoga Dia sambut engkau lembut bersiponggang
duhai dipa yang dulu berduka, di sini hanya ada cinta
masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, masuklah ke dalam surgaKu…

____________________
(Semarang, 162 tahun setelah berakhirnya Duka Sedalam Cinta Dipanegara)