AHMAD YASIN

Ia lahir dari keluarga miskin lagi pengungsi. Ia bermimpi melawan kezhaliman yang mencakar koyak wajah bumi para Nabi, sejak pertengahan abad lalu. Suatu hari, ia bersama teman-temannya membuat sebuah acara kemah ketangkasan di pantai Gaza. Dan dari sanalah kisah menakjubkan itu dimulai.

Di akhir acara mereka berlomba, mereka saling adu ketahanan. Siapa bisa berdiri dengan kepala dalam jangka waktu terlama, dialah sang pemenang. Sang pemenang berhak digendong bergantian selama perjalanan pulang.

Tiap menit, satu demi satu peserta menyerah. Lalu tinggallah dia sendiri. Dia masih terus bertumpu di atas kepalanya bahkan sampai beberapa jam kemudian! Gila! Teman-temannya berseru-seru. Tapi ia tak beranjak. Wajahnya dicobakan tuk tetap tersenyum. Hingga pada satu titik waktu, ia tak tahan lagi. Serasa ada yang meledak di kepalanya. Lalu ia jatuh. Sayangnya saat mencoba bangkit, ia limbung. Ia jatuh lagi. Dan kakinya sulit digerakkan, bahkan serasa tak mampu menahan berat tubuhnya. Hari itu, usianya baru enam belas tahun. Ahmad Yasin namanya.

Konon tak ada hari berganti, kecuali bertambah penyakit yang menggerogoti jasadnya, dari pupusnya anggota gerak hingga suara lirih nyaris berbisik yang terdengar darinya.

Segala kepayahan raga itu tak menghalanginya untuk mengajar dengan penuh cinta, hingga anak-anak Palestina lalu tergerak untuk meramaikan Masjid, menghafal Al Quran, dan mengkaji Sirah. Lalu dengan kelumpuhan itu, dia nyalakan intifadhah, kobaran yang membakar nyali para penjajah.

Pada tanggal ini, 14 tahun lalu, dia dipanggil pulang oleh Rabbnya dalam syahadah seperti yang dicitakannya, agar tunas-tunas baru perjuangan beroleh ruang untuk berakar dan mekar. Rahimahullaah.

“Saat langit berwarna merah saga..
Dan kerikil perkasa berlarian..
Meluncur laksana puluhan peluru..
Terbang bersama teriakan takbir..

Semua menjadi saksi, atas langkah keberanianmu…
Kita juga menjadi saksi, atas keteguhanmu..

Ketika Yahudi-yahudi membantaimu..
Merah berkesimbah di Tanah Airmu..
Mewangi harum genangan darahmu..
Membebaskan bumi jihad Palestina..
Perjuangan telah kaubayar dengan jiwa..
Syahid dalam cintanya..”

-Shoutul Harokah-