SUMBER PESONA

“Sesungguhnya Allah Maha Indah. Dia mencintai keindahan.”

إن الله جميل يحبّ الجمال

(HR Muslim)

Pernah kita kemukakan, kakak beradik pewaris Mataram, Surakarta dan Yogyakarta punya konsep estetika yang agak berbeda. Di Solo, ada istilah “ndudut ati”, sementara di Jogja, puncak keindahan disebut “ngayang batin”.

“Ndudut”, arti harfiahnya adalah “menarik sesuatu dari dalam melalui celah sempit yang disertai sensasi akibat gesekan”. Jadi bisa dibayangkan, “ndudut ati” adalah konsep seni yang membuat para penikmatnya menahan nafas, dengan jantung serasa ditarik keluar, dan tanpa sadar menggumamkan “haaaahhh” karena ketakjuban.

Itulah “ndudut ati”, konsep seni Surakarta yang mewujud dalam glamor, gebyar, wah, dan kilau-kemilaunya tampilan.

Adapun “ngayang batin” bermakna membuat batin terlambung-lambung, melayang-layang menjelajahi alam keindahan yang tanpa batas, tapi rasa hati itu tak dilepas keluar, ditahan tetap di tempatnya sehingga rasa mattttt-nya terjaga di dalam diri. Dalam konsep ini, menikmati karya seni menjadi suatu pengalaman ruhani yang tak rela dibagi-bagi, sebab tiada kata atau bahkan eskpresi wajah maupun bahasa tubuh yang sanggup mewakili.

Itulah “ngayang batin”, konsep seni Yogyakarta yang dalam wujudnya terlihat sederhana alias prasaja, tapi gandhes, luwes, dan nresep atau merasuki hati, membuka petualangan imajinasi tak terbatas.

Kedua konsep ini teraplikasi dalam berbagai hal; dari griya, busana, seni rupa, seni tari, hingga senjata. Barangkali karena dibesarkan dalam alam Yogyakarta, sayapun merasa bahwa madzhab “ngayang batin” juga merupakan terjemah dari pesona sejati seorang mukmin yang bersumber dari kemesraan hubungannya dengan Sang Pencipta. Ibn Qayyim Al Jauziyah pernah menyatakan;

من قرت عينه بالله قرت به كل عين

“Siapa yang menjadikan Allah sebagai keterpesonaannya; jadilah ia mempesona bagi semua mata.”

Pernah ditanya Imam Hasan Al Bashri, “Duhai ‘Alimnya Bashrah, mengapa wajah orang-orang yang bertahajjud itu enak dipandang?”

“Bagaimana tidak”, jawab beliau. “Mereka telah melalui malamnya bersama Allah Yang Maha Mulia. Maka cahayaNya telah menerangi mereka, hingga di siang hari mereka memantulkan cahaya itu pada sesamanya.” Mari meraih pesona sejati, dengan pengabdian pada Dzat Yang Maha Tinggi.
____________
Salah satu Warangka Branggah Yogyakarta kayu Timoho favorit saya, Pendhok bertatah Praja Cihna Merak Kanthet, mendhak jene kendhit, deder kemuning jengker.