PRAWIRO RONO

Kali Bogowonto, Musim Hujan 1751

Di tengah gerimis, prajurit berseragam kesatuan Mantrijero itu maju sambil menggenggam tombak berlandheyan panjang. Luar biasanya, yang dia genggam bukan bagian gagangnya, melainkan mata tombaknya.

Cara memegang tombak yang tak lazim itu tak menghalanginya untuk menyabet ke kanan dan ke kiri, membuat serdadu-serdadu VOC bertumbangan. “Hayo maju semua! Ini aku Prawiro Rono!”, sumbarnya meneriakkan nama. Disisingkannya surjan lurik hitam abu-abu ke arah kerisnya yang diwangking di belakang pinggang, membuat bagian bawah dadanya hanya terlindung dalaman putih. Celana ksatriannya yang berwarna senada telah ternoda darah.

Terdengar kuda berderap mengecipakkan arus sungai. Prawiro Rono tahu siapa yang akan dihadapinya. Inilah Mayor De Klerk, Komandan VOC yang kemarin dengan bengis menawan estri dan putri dari keluarga junjungan para pejuang Mataram, Pangeran Mangkubumi.

Dengan cekatan dia gebuk turangga musuh memakai landheyan hingga hewan itu meringkik mengangkat 2 kaki depan. Lalu seperti tata tempur ala Jawa yang menurut sejarawan Peter Carey sangat ditakuti Belanda, ketika sang penunggang berusaha mengendalikan kuda panik itu, posisi jantung di dada kiri segera dihunjam dengan kekuatan penuh mata tombaknya.

Baju zirah baja sang Mayor rupanya kokoh sekali. Sampai beberapa kali Prawiro Rono mencoba menetak, tusukan itu tak tembus. Komandan Belanda itu terkekeh mengejeknya.

Tak dinyana, dengan memegang bagian mata tombak lalu mengayun gagangnya ke depan, Prawiro Rono meloncat tinggi. Dengan kegesitan yang sulit diikuti mata, dia telah berada di atas kuda De Clerk berhadapan dengan Sang Mayor. Ujung tombak yang masih dipegang itu segera dia hunjamkan ke leher De Clerk yang tak terlindung. Sang Komandan VOC menjerit dengan pekik tertahan, lalu rubuh bersimbah darah.

Kemenangan besar di Bagelen ini akan diikuti dengan pengepungan Benteng Ungaran yang membuat Gubernur Jenderal Baron van Imhoff terluka parah lalu menemui ajal.

Tombak itu kelak menjadi salah satu pusaka Keraton Yogyakarta yang diberi gelar Kangjeng Kyai Klerek.

Pertanyaannya, siapa sebenarnya Prawiro Rono, bintang Perang Giyanti 1746-1755 itu yang setelah pertempuran Bogowonto menghilang bak ditelan bumi?

Konon hanya ada satu orang yang punya kebiasaan memegang tombak pada matanya. Dialah Pangeran Mangkubumi sendiri. Pendiri Kasultanan Yogyakarta. Rahimahullaahu rahmatan waasi’ah. #keris #warangka #tombak