KEMBAR di MEDAN LAGA

Ada dua sosok yang begitu mirip di Perang Uhud. Maka Ibn Qumai’ah luput mengira, bahwa yang dibunuhnya adalah Muhammad ﷺ, padahal itu adalah Mush’ab.

Pesona Mush’ab ibn ‘Umair, sosoknya yang menonjol, ditambah tangannya yang kokoh memegang panji pasukan Islam membuat Ibn Qumai’ah tak ragu mengentak kudanya menuju Mush’ab hingga bolak-balik tiga kali untuk memapas lengan-lengannya. Dan sabetan pedang ketigapun nyaris membelah tubuh sang pahlawan hingga dia rubuh bersimbah darah. Di sepanjang keteguhannya, terucap ayat yang dahsyat:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh lalu kalian akan murtad dan berbalik ke belakang?“ (QS. Ali ‘Imran: 144)

Mush’ab tahu betul bahwa dia dikira Rasulullah ﷺ. Maka dia tak ingin kematiannya menjadi sebab cerai-berainya barisan muslimin. Dia syiarkan ayat itu keras-keras agar semua faham bahwa perjuangan harus tetap berlanjut, ada atau tiadanya Sang Nabi ﷺ di tengah mereka.

Kelak ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang sedang makan bersama para budaknya tiba-tiba menangis sesenggukan. “Mush’ab ibn ‘Umair lebih baik dari kami”, ujarnya di tengah isak, “Dan sejak berislam dia tak pernah merasakan makanan selembut ini.”

“Ketika dia syahid”, sambungnya masih sambil menangis, “Tak ada kain untuk mengafaninya selain sehelai selimut usang lagi bertambal. Jika ditutupkan ke kepala, kakinya terlihat. Jika diselubungkan ke kaki, kepalanya terbuka. Maka kami tutupkan kain itu ke kepalanya, dan kami selubungi kakinya dengan rerumputan idzkhir.”

Mush’ab si tampan, yang pesonanya pernah menaklukkan Madinah untuk berislam menyambut hijrah Rasulullah ﷺ, dicintai sepenuh hati. Istrinya pun sampai pingsan mendengar kesyahidannya, padahal berita kematian ayah dan kakak tak menggoyahkannya.

Lain di Uhud, beda lagi di Kuruksetra. Di hari ke-15, para Pandawa harus berhadapan dengan saudara seibu mereka yang diangkat menjadi Senapati pihak Kurawa; Adipati Karna. Dan Arjuna, yang tertakdir menghadapi sang kakak tampak begitu mirip ketika didandani dengan gelungan serupa. Karna, anak tersisih yang memilih setia pada persahabatan dan pembelaan yang diberikan Duryudhana daripada kebenaran dan persaudaraan yang dinasehatkan Krisna, hari itu gugur menuntaskan dharmanya.
__________
Ricikan #keris: Kembang Kacang ganda di depan dan belakang, pejetan rangkap, sogokan dua; maka lurus maupun luk berapapun dhapurnya disebut Karna-Tinandhing. Kali ini ditambah pula jenggot dan jalen ganda, lambe gajah, greneng, pudhak sategal, dan mbawang sebungkul. Alhamdulillah, sugeng rawuh.