<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Salim A. Fillah</title>
	<atom:link href="http://salimafillah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salimafillah.com</link>
	<description>Berbagi Makna</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Jun 2013 05:26:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4</generator>
		<item>
		<title>Rumah Sejati Kita</title>
		<link>http://salimafillah.com/rumah-sejati-kita/</link>
		<comments>http://salimafillah.com/rumah-sejati-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Jun 2013 07:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim A. Fillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salimafillah.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>&#160;
<p dir="RTL"><strong><em>وَالأَصْلُ فِي الْمَبْنِيِّ أَنْ يُسَكَّنَا</em></strong></p>
<p align="right">Asal dalam kemabnian ialah dihukumi sukun.</p>
<p align="right"><strong>Ibn Malik Al Andalusy<em>, Alfiyah: Bait XXI</em></strong></p>
</blockquote>
<strong> </strong>
<p style="text-align: justify;">Ketika Jamaluddin ibn ‘Abdillah ibn Malik Ath Thay menyusun seribu bait syair menyejarahnya, tujuan beliau adalah untuk menghimpun semua Kaidah Nahwu (Tata-Susun) dan Sharaf (Tata-Bentuk) Bahasa Arab; menjelaskan berbagai kerumitan dengan bahasa yang ringkas, padat, dan indah; serta membuat pelajaran<em> Lughah </em>ini menjadi asyik dan menarik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi sebagaimana “Adab” yang dapat berarti “Sastra” menjadi kata dasar bagi “Peradaban”, maka Alfiyah Ibnu Malik yang penuh berkah hingga disyarah lebih dari 40 ‘Ulama itu tak hanya sekedar menjadi kaidah berbahasa, melainkan juga kaidah berperadaban.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara hal itu, kita kutip secuplik dari Bab Mu’rab dan Mabni di awal tulisan ini. Kutipan <em>“Wal ashlu fil mabniyyi an yusakkana”</em> bermakna bahwa bentuk asli dari Mabni adalah tersukun pada akhir kalimah, sebab ia merupakan syakal yang paling ringan. Oleh karena itu ia bisa masuk pada <em>Kalimah Isim</em>, <em>Fi’il,</em> maupun <em>Harf</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan di sini agaknya tempat berkerut-dahi dengan kaidah berbahasa. Izinkan kami meloncat ke pemaknaannya bagi hidup keseharian kita, bahwa dengan sedikit mengubah harakatnya kita akan membaca kaidah ini teterjemahkan sebagai, “Asal dalam bangunan adalah agar ia ditempati.”</p>
<p style="text-align: justify;">Maka sungguh benar; ketika manusia hari ini membangun rumah, istana, dan gedung bukan untuk ditempati melainkan sebagai investasi, ia menjadi bencana tak cuma di akhirat, tapi telah tercicip kerusakan sejak di dunia. Tak ada ahli ekonomi yang menyangkal bahwa krisis ekonomi 1997 terpicu dari soal properti di Korea dan Thailand, lalu ada <em>subprime morgage</em> di Amerika, hingga Burj Dubai dan kredit hipotek di Eropa. Semua terjadi karena manusia tak lagi menghayati “Asal dalam bangunan adalah agar ia ditempati.”</p>
<p style="text-align: justify;">Para pendahulu kita yang shalih bukan hanya mentaati kaidah ini. Bahkan terhadap rumah yang benar-benar ditempati , tak lepas hati mereka dari was-was bahwa kediaman perehatan di dunia yang sementara itu akan melalaikan dari kampung akhirat yang abadi. Di hati mereka terus berdengung ayatNya, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku tak suka memperindah rumahku kecuali sekadar memuliakan tamu”, ujar ‘Abdullah ibn ‘Umar suatu kali, “Sebab ia membuatku mencintai dunia, melalaikan akhirat, memberatkan langkah ke Masjid, dan memalaskan jiwa dari jihad fi sabiliLlah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ath Thabrani mengetengahkan riwayat dari Abu Juhaifah, bahwa RasuluLlah <em>ShallaLlahu</em> <em>‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda, “Dunia akan dibukakan kepada kalian, hingga kalian menghiasi rumah sebagaimana Ka’bah dihias. Kalian pada hari ini lebih baik dibandingkan pada hari itu.” Syaikh Al Albani mengesahkan hadits ini dalam <em>Shahih Al Jami’</em>, no 3614.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa jauh kita hari ini dari petunjuk RasuliLlah dan teladan orang-orang yang diridhaiNya. Betapa bangga kita tentang seluas apa, sejumlah lantai, seharga berapa, senyaman apa, dan bagaimana mempercantiknya. Tanpa sadar bahwa rumah abadi kelak kita di akhirat belumlah dipasang batu pertamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kesimpulan dari para ahli ilmu tentang menghias dan memperindah rumah adalah”, tulis Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid dalam <em>Akhthar Tuhaddidul Buyut</em>, “Bahwa ia bisa makruh atau haram. Sebab di dalamnya, terdapat penyia-nyiaan harta dan kebergayutan hati terhadap dunia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini kita mengenang seorang wanita mukminah yang ditunjuk Allah menjadi teladan sepanjang zaman. Dia yang memilih Allah sebagai tetangganya, sebelum meminta padaNya rumah sejati. Dia yang memilih sebuah majlis kecil untuk bermesra dengan Sesembahannya, ketika suaminya memimpin dunia dengan keangkuhan dan kelaliman dari kemegahan mahligai istana dan singgasana. Hari ini kita merenungkan doanya yang bersahaja.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Duhai Rabbi, bangunkan untukku di sisiMu, sebuah rumah di surga itu.” <strong>(Qs. At Tahriim [66]: 11)</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Lebih dari Asiyah, hari ini kita amat berhajat memohon rumah sejati, rumah abadi.  Rumah yang sejak kini telah menjadi peraduan hati, memulihkan taat setiap kali kita tertatih. Agar ia menjadi tempat berteduh jiwa kita dari terik dan derasnya dunia. Agar kita yakin selalu bahwa hidup ini hanya persinggahan sejenak dan seberangan selintas. Agar di sana tersimpan segala puji-puji yang orang beri, sedang kita tak layak menerima. Agar ruh kita tentram dalam perjuangan ini, walau lelah-luka dan lara-duka menyobek raga.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini kita amat berhajat memohon rumah sejati, rumah abadi, di sisi Rabb Yang Maha Tinggi. Dan meminta pertolonganNya untuk mengetuk pintu rumah itu sejak kini, dengan bakti tak henti-henti.</p>
<p style="text-align: justify;">sepenuh cinta, {dimuat dalam Hidayatullah-Juni}</p>
<p style="text-align: justify;">salim a. fillah</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://salimafillah.com/rumah-sejati-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Empat Ribu Tahun</title>
		<link>http://salimafillah.com/doa-empat-ribu-tahun/</link>
		<comments>http://salimafillah.com/doa-empat-ribu-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Jun 2013 16:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim A. Fillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salimafillah.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>“Ya RasulaLlah”, begitu suatu hari para sahabat bertabik saat mereka menatap wajah beliau yang purnama, “Ceritakanlah tentang dirimu.”</blockquote>
Dalam riwayat Ibn Ishaq sebagaimana direkam Ibn Hisyam di Kitab Sirah-nya; kala itu Sang Nabi <em>ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam </em>menjawab dengan beberapa kalimat. Pembukanya adalah senyum, yang disusul senarai kerendahan hati, “Aku hanyasanya doa yang dimunajatkan Ibrahim, <em>‘Alaihissalam</em>..”

Doa itu, doa yang berumur 4000 tahun. Ia melintas mengarungi zaman, dari sejak lembah Makkah yang sunyi  hanya dihuni Isma’il dan Ibundanya hingga saat 360 berhala telah menyesaki Ka’bah di seluruh kelilingnya. Doa itu, adalah ketulusan seorang moyang untuk anak-cucu. Di dalamnya terkandung cinta agar orang-orang yang berhimpun bersama keturunannya di dekat rumah Allah itu terhubung dan terbimbing dari langit oleh cahayaNya.

<em>“Duhai Rabb kami, dan bangkitkan di antara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri; yang akan membacakan atas mereka ayat-ayatMu, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah, serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaqksana.” <strong>(QS Al Baqarah [2]: 129)</strong></em>

“Kata adalah sepotong hati”, ujar Abul Hasan ‘Ali An Nadwi, maka doa adalah setetes nurani. Ia disuling dari niat yang haru dan getar lisan yang syahdu. Ia dibisikkan dengan <em>tadharru’</em> dan <em>khufyah</em>; dengan berrendah-rendah mengakui keagungan Allah dan berlirih-lirih menginsyafi kelemahan diri. Dalam diri Ibrahim, kekasih Ar Rahman itu, doanya mencekamkan gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta.

Maka dari doa itu kita belajar; bahwa yang terpenting bukan seberapa cepat sebuah munajat dijawab, melainkan seberapa lama ia memberi manfaat. Empat ribu tahun itu memang panjang. Tapi bandingkanlah dengan hadirnya seorang Rasul yang tak hanya diutus untuk penduduk Makkah, tapi seluruh alam; menjadi rahmat bukan hanya bagi anak-turunnya, tapi semesta; membacakan ayatNya bukan hanya dalam kata, tapi dengan teladan cahaya; mensucikan jiwa bukan hanya bagi yang jumpa, tapi juga yang merindunya; dan mengajarkan Kitab serta Hikmah bukan hanya tuk zamannya, tapi hingga kiamat tiba.

Dari doa itu kita belajar; bahwa Allah Maha Pemurah; tak dimintaipun pasti memberi. Maka dalam permohonan kita, bersiaplah menerima berlipat dari yang kita duga. Allah Maha Tahu; maka berdoa bukanlah memberitahu Dia akan apa yang kita butuhkan. Doa adalah bincang mesra, agar Dia ridhai untuk kita segala yang dianugrahkanNya.

Dalam syukur pada 2 orang yang disebut ‘<em>Uswatun Hasanah</em>’ itu, kita teringat shalawat yang diajarkan Muhammad <em>ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam</em> dengan rendah hati; mengenang bapak para Nabi yang atas doanyalah beliau diutus. Maka tiap kebaikan yang dipancarkan Muhammad hingga hari kiamat, Ibrahim memegang sahamnya.

Dan kita yang rindu pada Sang Nabi untuk disambut di telaganya, diberi minum dengan tangannya, dinaungi bersamanya, dan beroleh syafa’atnya; mari tak bosan membaca, “<em>Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala Ali Muhammad; kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala Ali Ibrahim</em>..”

sepenuh cinta {dimuat dalam UMMI edisi Juni}

Salim A. Fillah]]></description>
		<wfw:commentRss>http://salimafillah.com/doa-empat-ribu-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis, dari Makna hingga Daya</title>
		<link>http://salimafillah.com/menulis-dari-makna-hingga-daya/</link>
		<comments>http://salimafillah.com/menulis-dari-makna-hingga-daya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2012 14:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim A. Fillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salimafillah.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[<div>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td align="left" valign="top">
<blockquote>kata-kata kita menjelma boneka lilin

saat kita mati untuk memperjuangkannya

kala itulah ruh kan merambahnya

dan kalimat-kalimat itupun hidup selamanya

-Sayyid Quthb-</blockquote>
Menulis adalah mengikat jejak pemahaman. Akal kita sebagai karunia Allah ‘Azza wa Jalla, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data. Tetapi kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah tersimpan lama. Ilmu masa lalu itu berkeliaran dan bersembunyi di jalur rumit otak.<strong> </strong>Maka menulis adalah menyusun kata kunci untuk membuka khazanah akal; sekata menunjukkan sealinea, satu kalimat untuk satu bab, sebuah paragraf mewakili berrangkai kitab.<strong> </strong>Demikianlah kita fahami kalimat indah Imam Asy-Syafi'i; ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman. Kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu dan dikaruniai pengertian; maka adakah kemajuan?<strong> </strong>Itu boleh kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan.<strong> </strong>Jika tulisan kita tiga bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika anggitan setahun lewat masih terkagumi juga; itu menyedihkan.<strong> </strong>

Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyaksamaan dan penilaian.<strong> </strong>Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar dan sarasehan. Tetapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan.<strong> </strong>Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, dan membetulkan kekeliruan.

<strong>                </strong>Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; makin bening, makin luas, kian dalam, dan kian tajam.<strong> </strong>Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak dipupus masa dan usia, ia tak terhalang ruang dan jarak.<strong> </strong>Adagium Latin itu tak terlalu salah; <em>Verba Volant, Scripta Manent</em>. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis kan adi mengabadi. Tetapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai. Apakah kemaslahatan yang kita lungsurkan, atau justru kerusakan.

<strong>                </strong>Andaikan benar bahwa <em>II Principe<strong> </strong></em>yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, dan Stalin; akankah dia bertanggung jawab atas berbagai kezaliman yang terilham bukunya?<strong> </strong>Sebab bukan hanya pahala yang bersifat <em>'jariyah'</em>; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan.<strong> </strong>Mungkin tak separah II Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai.

<strong>                </strong>Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba.<strong> </strong>Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?”<strong> </strong>Moga kelak dijawab-Nya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan yang kautebarkan.” Tulisan shahih dan <em>mushlih</em>; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham, tanpa mengurangi ganjaran si bersangkutan.

<strong>                </strong>Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluk pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi "Baca!"<strong> </strong>Tersebut dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan ditegaskan Ibnu Taimiyah dalam <em>Fatawa</em>, “Makhluk pertama yang dicipta-Nya ialah pena, lalu Dia berfirman, “Tulislah!” Tanya Pena, “Apa yang kutulis, wahai Rabbi?” Maka Allah titahkan, “Tulislah segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluk-Ku sejak awal zaman hingga akhir waktu.”<strong> </strong>

Demikianpun ilmu yang diajarkan pada Adam hingga membuat dia unggul atas malaikat yang diperintahkan bersujud padanya adalah bahasa; adalah kosa kata; adalah nama-nama (QS Al-Baqarah [2} ayat 31).<strong></strong>

Dan “Baca!”; adalah wahyu pertama. Bangsa Arab dahulu mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca. Sebab, menulis—kata mereka—hanyalah alat bantu bagi yang hafalannya di bawah rata-rata. Namun begitu ayat itu nuzul di Bukit Cahaya, hanya dalam 2 dasawarsa, para penggembala kambing dan penunggang unta itu meloncat ke ufuk, menjadi guru bagi semesta.<strong></strong>

Muhammad, <em>Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</em>, hadir bukan dengan mukjizat yang membelalakkan. Dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Al Quran’, yang bermakna 'bacaan'.<strong> </strong>Maka Islam menjelma diri menjadi peradaban ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; hingga berbagai wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke segenap penjuru bumi.<strong></strong>

Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita. Sungguh, sesusun kalimat dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah arah laju dunia.<strong> </strong>Maka bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, dan tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan?<strong> </strong>Saya mencermati setidaknya ada tiga kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; <em>Daya Ketuk, Daya Isi</em>, dan <em>Daya Memahamkan</em>.<strong></strong>

<strong>Daya Ketuk</strong>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td align="left" valign="top">Daya ketuk ini yang paling berat dibahas. Yang mericau ini pun masih jauh darinya dan tertatih belajar merengkuhnya. Ia masalah hati; terkait niat dan keikhlasan.<strong> </strong>Tapi pertama-tama, marilah kita jawab ketiga pertanyaan ini: 1) Mengapa saya harus menulis? 2) Mengapa hal ini harus ditulis? 3) Mengapa harus saya yang menuliskannya?</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<strong>                </strong>Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 soalan ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati berrupa-rupa tantangan menulis.<strong> </strong>Alasan kuat tentang diri, tema, dan akibat dunia-akhirat yang akan kita tanggung jika ia tak ditulis; akan menggairahkan, menguatkan, dan menekunkan.<strong> </strong>Keterlibatan hati dan jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan.<strong> </strong>

Tetapi, tak cukup hanya hati bergairah dan semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di nurani pembaca. Menulis memerlukan kata yang agung dan berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap dan takut yang hanya pada-Nya. Cinta terhadap kebenaran di atas segala-galanya.<strong></strong>

Allah menggambarkan keikhlasan sejati bagaikan susu; terancam kotoran dan darah, tapi terupayakan. Ia murni, bergizi, mengandung tenaga inti. Ia mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat dan bertakwa (Q.s. an-Nahl [16] ayat 66).<strong> </strong>Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah dan tak mudah, ada goda kotoran dan darah, ada rayuan kekayaan dan kemasyhuran, ada jebakan riya' dan<em> sum'ah</em>.

<strong>                </strong>Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan dan perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci.<strong> </strong>Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran dan darah, racun dan limbah; lalu disajikan pada pembaca.<strong> </strong>Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat dalam hati, ampuni bocornya syahwat itu dan ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis dan berbagi.<strong> </strong>

<strong>                </strong>Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, dan muntah bahkan saat baru mengamati awalnya.<strong> </strong>Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya.<strong> </strong>Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketakwaan. Itulah daya ketuk sejati.<strong> </strong>

Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu dan shalat yang dilakukan semata karena niat menoreh kata. Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Mahaperkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa. Lalu menulis itu sekadar satu dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan yang mengemuka.

<strong>Daya Isi</strong>
<div>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td align="left" valign="top">Setelah daya ketuk, penulis sejati harus ber<em>-Daya Isi</em>. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung harus berbuat apa.<strong> </strong>Daya Ketuk memang membuat pembaca terinsyaf dan tergugah. Tapi jika isi yang kemudian dilahap ternyata cacat, timpang, dan rusak; jadilah masalah baru.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<strong>                </strong>Daya Isi adalah soal ilmu. <em>Mahfuzhat</em> Arab itu sungguh benar; “<em>Fakidusy syai', laa yu'thi</em>: yang tak punya, takkan dapat memberi”.<strong> </strong>Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Semuanya sebagai mujahadah tanpa henti.

<strong>                </strong>Dia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati apa yang memancar dari hidup Rasul-Nya; dan membawakan makna ke alam tinggalnya.<strong> </strong>Dia pahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; terus mencoba mencerahkan akal dan hati.

<strong>                </strong>Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses penghayatan dan internalisasi.<strong> </strong>Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kepahaman latar belakang dan kedalaman tafsir.<strong> </strong>Dengan internalisasi itu; semua data dan telaah yang disajikan jadi matang dan lezat dikunyah. Pembacanya mengasup ramuan bergizi dengan amat berselera hati.<strong> </strong>

Sebab konon 'tak ada yang baru di bawah matahari'; tugas penulis mungkin memang hanya meramu hal-hal lama agar segar kembali.<strong> </strong>Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat satu masalah dari banyak sisi.<strong> </strong>Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak.<strong> </strong>Maka penulis sejati lihai menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar dan baru, dengan tetap berpegang pada kaidah shahih dan tertentu.<strong></strong>

<strong>                </strong>Dia hubungkan makna yang kaya; fikih dan tarikh; dalil dan kisah; teks dan konteks; fakta dan sastra; penelitian ilmiah dan kecenderungan insaniyah.<strong> </strong>Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggal. Tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus dan terus mencari.<strong> </strong>Dia membawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi masing-masing pembaca; beda pula bagi pembaca yang sama di saat lainnya. Tulisannya membaru dan mengilhami selalu.<strong> </strong>Maka karyanya melahirkan karya; syarah dan penjelasan, catatan tepi dan catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, dan bahkan bantahan.

<strong>Daya Memahamkan</strong>
<div>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td align="left" valign="top">S<span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: #333333;">eorang penulis menggugah memulai daya memahamkan-nya dengan satu pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia.<strong> </strong>Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu dan berwawasan dibandingkan dirinya sendiri.<strong> </strong>Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih dibanding pembaca: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar kuberitahu.”</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
&#160;

<strong>                </strong>Setiap tulisan dan buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat dan membuat penat.<strong> </strong>Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak sengaja melahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu.<strong> </strong>Sungguh, sikap jiwa seorang penulis harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa yang lebih adil, haus ilmu, dan rendah hati.

<strong>                </strong>Penulis sejati mengukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kautahu.”<strong> </strong>Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi.<strong> </strong>Penulis sejati berhasrat untuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kekeliruannya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya.<strong> </strong>Penulis sejati menjadikan dirinya seakan murid yang mengajukan hasil karangan pada gurunya. Maka berribu pembaca menjadi pengajar baginya, berjuta ilmu akan menyapanya.

<strong>                </strong>Inilah yang menjadikan tulisan akrab dan lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, dan rendah hati.<strong> </strong>

Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang beribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami.<strong> </strong>Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai dan tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet dan jemari terhenti. Jika lolos tertulis; ianya menjadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual.<strong></strong>

Kesantunan Allah menjadi pelajaran bagi kita. Rasul-Nya menegaskan keindahan surga itu belum pernah ada mata yang melihatnya, telinga yang mendengarnya, dan angan yang membayangkannya. Tetapi dalam firman-Nya, Dia menjelaskan dengan paparan yang mudah dihayati.<strong> </strong>Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, bebuahan dekat, duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus dan tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.<strong> </strong>

Inilah Allah yang Mahatahu, Dia tak bersombong dengan ilmu. Bahkan Dia kenalkan diri-Nya bukan sebagai “Ilah” di awal-awal, melainkan sebagai “Rabb” yang lebih dikenal.

<strong>                </strong>Penulis sejati menghayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka.<strong> </strong>Penulis sejati memahami; dalam keterbatasan ilmu yang dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang bersahaja.<strong> </strong>Itu pun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, dan tambahan data.<strong> </strong>

<strong>                </strong>Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya memahamkan hakikatnya berhulu di sini.<strong> </strong>Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan dia pun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata.<strong> </strong>Begitulah daya memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, dan rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan dengan tekad bulat untuk menjadi orang pertama yang mengamalkan tulisan, dan berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, serta penuh cinta.

<strong>                </strong>Kali ini, tercukup sekian bincang kita tentang menulis. Maafkan tak melangkah ke hal-hal yang bersifat teknis, sebab banyak yang lebih ahli tentangnya.<strong> </strong>Semoga kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal dan mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup seorang mukmin untuk menebar cahaya pada dunia.<strong> </strong>Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin untuk menguatkan iman, amal shalih, dan saling menasehati.<strong> </strong>Jika ada amal lain yang lebih utama dan lebih kuat dampaknya dalam ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu; tinggalkan menulis untuk menujunya.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://salimafillah.com/menulis-dari-makna-hingga-daya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjaga, Menata, lalu Bercahaya</title>
		<link>http://salimafillah.com/menjaga-menata-lalu-bercahaya/</link>
		<comments>http://salimafillah.com/menjaga-menata-lalu-bercahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Oct 2012 00:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim A. Fillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salimafillah.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan  menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.

”<em>Subhanallaah.. wal hamdulillaah</em>..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
<p align="center">♥♥♥</p>
Tak mudah menjadi lelaki sejantan Salman. Tak mudah menjadi sahabat setulus Abud Darda’. Dan tak mudah menjadi wanita sejujur shahabiyah yang kelak kita kenal sebagai Ummud Darda’. Belajar menjadi mereka adalah proses belajar untuk menjadi orang yang benar dalam menata dan mengelola hati. Lalu merekapun bercahaya dalam pentas sejarah. Bagaimanakah kiranya?

Ijinkan saya mengenang seorang ulama yang berhasil mengintisarikan <em>Ihya’ ‘Ulumiddin </em>karya Imam Al Ghazali. Ustadz Sa’id Hawa namanya. Dalam buku <em>Tazkiyatun Nafs</em>, beliau menggambarkan pada kita proses untuk menjadi  orang yang shadiq, orang yang benar. Prosesnya ada empat, ialah sebagai berikut,

&#160;
<ol start="1">
	<li><strong><em>Shidqun Niyah</em></strong></li>
</ol>
Artinya benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ‘ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.
<ol start="2">
	<li><strong><em>Shidqul ‘Azm</em></strong></li>
</ol>
Artinya benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar dalam memantapkan jiwa.
<ol start="3">
	<li><strong><em>Shidqul Iltizam</em></strong></li>
</ol>
Artinya benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqamahkan dzikir, fikir, dan ikhtiyar.
<ol start="4">
	<li><strong><em>Shidqul ‘Amaal</em></strong></li>
</ol>
Artinya benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar Ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.

Nah, mari coba kita refleksikan proses menjadi orang benar ini dalam proses menuju pernikahan. Seperti Salman. Ia kuat memelihara aturan-aturan syar’i. Dan mengharukan caranya mengelola hasrat hati. Insyaallah dengan demikian keberkahan itu semakin mendekat. Jikalau <em>Ash Shidq </em>berarti kebenaran dan bermakna kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia.
<p align="center">♥♥♥</p>
<strong>                </strong>Apa kiat sederhana untuk menjaga hati menyambut sang kawan sejati? Dari pengalaman, ini jawabnya: memfokuskan diri pada persiapan. Mereka yang berbakat gagal dalam pernikahan biasanya adalah mereka yang berfokus pada “Who”. Dengan siapa. Mereka yang insyaallah bisa melalui kehidupan pernikahan yang penuh tantangan adalah mereka yang berfokus pada “Why” dan “How”. Mengapa dia menikah, dan bagaimana dia meraihnya dalam kerangka ridha Allah.

Maka jika kau ingin tahu, inilah persiapan-persiapan itu:
<ol start="1">
	<li><strong>Persiapan Ruhiyah (Spiritual)</strong></li>
</ol>
Ini meliputi kesiapan kita untuk mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggung jawab, sedia berbagi, meluntur ego, dan berlapang dada. Ada penekanan juga untuk siap menggunakan dua hal dalam hidup yang nyata, yakni sabar dan syukur. Ada kesiapan untuk tunduk dan menerima segala ketentuan Allah yang mengatur hidup kita seutuhnya, lebih-lebih dalam rumahtangga.
<ol start="2">
	<li><strong>Persiapan ‘Ilmiyah-Fikriyah (Ilmu-Intelektual)</strong></li>
</ol>
Bersiaplah menata rumahtangga dengan pengetahuan, ilmu, dan pemahaman. Ada ilmu tentang <em>Ad Diin</em>. Ada ilmu tentang berkomunikasi yang ma’ruf kepada pasangan. Ada ilmu untuk menjadi orangtua yang baik (parenting). Ada ilmu tentang penataan ekonomi. Dan banyak ilmu yang lain.
<ol start="3">
	<li><strong>Persiapan Jasadiyah (Fisik)</strong></li>
</ol>
Jika memiliki penyakit-penyakit, apalagi berkait dengan kesehatan reproduksi, harus segera diikhtiyarkan penyembuhannya. Keputihan pada akhwat misalnya. Atau gondongan (parotitis) bagi ikhwan. Karena virus yang menyerang kelenjar parotid ini, jika tak segera diblok, bisa menyerang testis. Panu juga harus disembuhkan, he he. Perhatikan kebersihan. Yang lain, perhatikan makanan. Pokoknya harus halal, thayyib, dan teratur. Hapus kebiasaan jajan sembarangan. Tentang pakaian juga, apalagi pada bagian yang paling pribadi. Kebiasaan memakai dalaman yang terlalu ketat misalnya, berefek sangat buruk bagi kualitas sperma. Nah.
<ol start="4">
	<li><strong>Persiapan Maaliyah (Material)</strong></li>
</ol>
Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan &#38; penegasan kepemimpinan suami. Persiapan finansial #Nikah sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, &#38; kendaraan yang harus kita punya. Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas menghasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, &#38; kemampuan mengelola sejumlah apapun ia.

Maka memulai per nikahan, BUKAN soal apa kita sudah punya tabungan, rumah, &#38; kendaraan. Ia soal kompetensi &#38; kehendak baik menafkahi. Adalah ‘Ali ibn Abi Thalib memulai pernikahannya bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dan lain-lain dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.

Maka sesudah kompetensi &#38; kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: pernikahan itu jalan Allah membuka kekayaan (QS 24: 32). Buatlah proyeksi nafkah rumahtangga secara ilmiah &#38; executable. JANGAN masukkan pertolongan Allah dalam hitungan, tapi siaplah dengan kejutanNya.

Kemapanan itu tidak abadi. Saat belum mapan masing-masing pasangan bisa belajar untuk menghadapi lapang maupun sempitnya kehidupan. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite, signifikan memperkuat ikatan cinta. Ketidakmapanan yang dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung dan meningkatkan angka harapan hidup.

&#160;
<ol start="5">
	<li><strong>Persiapan Ijtima’iyyah (Sosial)</strong></li>
</ol>
Artinya, siap untuk bermasyarakat, faham bagaimana bertetangga, mengerti bagaimana bersosialisasi dan mengambil peran di tengah masyarakat. Juga tak kalah penting, memiliki visi dan misi da’wah di lingkungannya.

&#160;

Nah, ini semua adalah persiapan. Artinya sesuatu yang kita kerjakan dalam proses yang tak berhenti. Seberapa banyak dari persiapan di atas yang harus dicapai sebelum menikah? Ukurannya menjadi sangat relatif. Karena, bahkan proses persiapan hakikatnya adalah juga proses perbaikan diri yang kita lakukan sepanjang waktu. Setelah menikah pun, kita tetap harus terus mengasah apa-apa yang kita sebut sebagai persiapan menikah itu. Lalu, kapan kita menikah?

&#160;

Ya. Memang harus ada parameter yang jelas. Apa? Rasulullah ternyata hanya menyebut satu parameter di dalam hadits berikut ini. Satu saja. Coba perhatikan.

&#160;

<em>                “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian <strong>telah</strong> bermampu <strong>BA’AH</strong>, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” <strong>(HR Al Bukhari dan Muslim)</strong></em>

<strong><em> </em></strong>

Hanya ada satu parameter saja. Apa itu? Ya, <em>ba’ah</em>. Apa itu <em>ba’ah</em>? Sebagian ‘ulama berbeda pendapat tetapi menyepakati satu hal. Makna ba’ah yang utama adalah kemampuan biologis, kemampuan berjima’. Adapun makna tambahannya, menurut Imam Asy Syaukani adalah <em>al mahru wan nafaqah</em>, mahar dan nafkah. Sedang menurut ‘ulama lain adalh penyediaan tempat tinggal. Tetapi, makna utamalah yang ditekankan yakni kemampuan jima’.

&#160;

Maka, kita dapati generasi awal ummat ini menikahkan putra-putri mereka di usia muda. Bahkan sejak mengalami <em>ihtilam</em> (mimpi basah) pertama kali. Sehingga, kata Ustadz Darlis Fajar, di masa Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, tidak ada kenakalan remaja. Lihatlah sekarang, kata beliau, ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh menyejarah menikah di usia belasan. Yusuf Al Qaradlawi menikah di usia belasan, ‘Ali Ath Thanthawi juga begitu. Beliau lalu mengutip hasil sebuah riset baru di Timur Tengah, bahwa penyebab banyaknya kerusakan moral di tengah masyarakat adalah banyaknya bujangan dan lajang di tengah masyarakat itu.

&#160;

Nah. Selesai sudah. Seberapa pun persiapan, sesedikit apapun bekal, anda sudah dituntut menikah kalau sudah ba’ah. Maka persiapan utama adalah komitmen. Komitmen untuk menjadikan pernikahan sebagai perbaikan diri terus menerus. Saya ingin menegaskan, sesudah kebenaran dan kejujuran, gejala awal dari barakah adalah mempermudah proses dan tidak mempersulit diri, apalagi mempersulit orang lain. Sudah berani melangkah sekarang? Apakah anda masih perlu sebuah jaminan lagi? Baik, Allah akan memberikannya, Allah akan menggaransinya:

&#160;

<em>“Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari ma’shiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.” <strong>(HR At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah)</strong></em>

<strong><em> </em></strong>

Pernah di sebuha milis, saya juga menyentil sebuah logika kecil yang pernah disampaikan seorang kawan lalu saya modifikasi sedikit. Apa itu? Tentang bahwa menikah itu membuka pintu rizqi. Jadi logikanya begini. Jatah rizqi kita itu sudah ada, sudah pasti sekian-sekian. Kita diberi pilihan-pilihan oleh Allah untuk mengambilnya dari jalan manapun. Tetapi, ia bisa terhalang oleh beberapa hal semisal malas, gengsi, dan ma’shiat.

&#160;

Kata ‘Umar ibn Al Khaththab, pemuda yang tidak berkeinginan segera menikah itu kemungkinannya dua. Kalau tidak banyak ma’shiatnya, pasti diragukan kejantanannya. Nah, kebanyakan insyaallah jantan. Cuma ada ma’shiat. Ini saja sudah menghalangi rizqi. Belum lagi gengsi dan pilih-pilih pekerjaan yang kita alami sebelum menikah. Malu, gengsi, pilih-pilih.

&#160;

Tapi begitu menikah, anda mendapat tuntutan tanggungjawab untuk menafkahi. Bagi yang berakal sehat, tanggungjawab ini akan menghapus gengsi dan pilih-pilih itu. Ada kenekatan yang bertanggungjwab ditambah berkurangnya ma’shiat karena di sisi sudah ada isteri yang Allah halalkan. Apalagi, kalau memperbanyak istighfar. Rizqi akan datang bertubi-tubi. Seperti kata Nabi Nuh ini,

&#160;

<em>                “Maka aku katakan kepada mereka: "Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” <strong>(Nuh 10-12)</strong></em>

&#160;

Pernah membayangkan punya perkebunan yang dialiri sungai-sungai pribadi? Banyaklah beristighfar, dan segeralah menikah, insyaallah barakah. Nah, saya sudah menyampaikan. Sekali lagi, gejala awal dari barakahnya sebuah pernikahan adalah kejujuran ruh, terjaganya proses dalam bingkai syaria’t, dan memudahkan diri. Ingat kata kuncinya; <strong>jujur, syar’i, mudah</strong>. Saya sudah menyampaikan, <em>Allaahummasyhad</em>! Ya Allah saksikanlah! Jika masih ada ragu menyisa, pertanyaan Nabi Nuh di ayat selanjutnya amat relevan ditelunjukkan ke arah wajah kita.

&#160;

<em>“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” </em><strong><em>(Nuh 13)</em></strong>

Begitulah. Selamat menyambut kawan sejati, sepenuh cinta.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://salimafillah.com/menjaga-menata-lalu-bercahaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nazhar, Bukan Sekedar Ta&#8217;aruf</title>
		<link>http://salimafillah.com/nazhar-bukan-sekedar-taaruf/</link>
		<comments>http://salimafillah.com/nazhar-bukan-sekedar-taaruf/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Oct 2012 03:26:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim A. Fillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salimafillah.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify;" align="right">Engkaulah itu minyak atar</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">Meskipun masih tersimpan</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">Dalam kuntum yang akan mekar</p>
<p style="text-align: justify;" align="right"><strong>-Iqbal, Javid Namah-</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"> “Seandainya kami bisa membelikan janggut untuk Qais dengan harta kami”, kata orang-orang Anshar, “Niscaya akan kami lakukan.” Semua sifat dan jiwa kepemimpinan memang ada pada pemuda ini. Nasabnya juga terkemuka lagi mulia. Kecuali, ya itu tadi. Janggut. Salah satu simbol kejantanan dalam kaumnya yang sayangnya tak dimilikinya. Wajahnya licin dan bersih.</p>
<p style="text-align: justify;">Namanya Qais ibn Sa’d ibn ‘Ubadah. Ayahnya, Sa’d ibn ‘Ubadah, pemimpin suku Khazraj di Madinah. Rasulullah menyebut keluarga ini sebagai limpahan kedermawanan. Ketika para muhajirin datang, masing-masing orang Anshar membawa satu atau dua orang yang telah dipersaudarakan dengan mereka ke rumahnya untuk ditanggung kehidupannya. Kecuali Sa’d ibn ‘Ubadah. Dia membawa 80 orang muhajirin ke rumahnya!</p>
<p style="text-align: justify;">Saat masuk Islam, Sa’d ibn ‘Ubadah menyerahkan sang putera kepada Rasulullah. “Inilah khadam anda wahai Nabi Allah”, ujar Sa’d. Tapi menurut Anas ibn Malik, Qais lebih pas disebut ajudan Sang Nabi. Dan air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Dalam pergaulannya di kalangan pemuda, Qais sangat royal seperti bapaknya di kalangan tua-tua. Tak terhitung lagi sedekah dan dermanya. Tak pernah ditagihnya piutang-piutangnya. Tak pernah diambilnya jika orang mengembalikan pinjaman padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedermawanan Qais begitu masyhur di kalangan muhajirin hingga menjadi bahan perbincangan. Sampai-sampai suatu hari Abu Bakr Ash Shiddiq dan ‘Umar ibn Al Khaththab berbicara tentangnya dan berujar, “Kalau kita biarkan terus pemuda ini dengan kedermawanannya, bisa-bisa habis licinlah harta orangtuanya!”</p>
<p style="text-align: justify;">Pembicaraan ini sampai juga ke telinga sang ayah, Sa’d ibn ‘Ubadah. Apa komentarnya? Menarik sekali. “Aduhai siapa yang dapat membela diriku terhadap Abu Bakr dan ‘Umar?!”, serunya. “Mereka telah mengajari anakku untuk kikir dengan memperalat namaku!” Mendengarnya para sahabat pun tertawa. Lalu Abu Bakr dan ‘Umar meminta maaf padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, Qais dan Sa’d. Ayah dan anak ini sebaris di jalan cinta para pejuang. Tak ada bedanya.</p>
<p style="text-align: center;" align="center">♥♥♥</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah salah satu ciri yang menonjol dari zaman yang mulia itu. Pewarisan karakter yang sangat kental dari para ayah kepada para anak. Seperti dari Sa’d ibn ’Ubadah kepada Qais yang telah kita bicarakan. Di belakang nama orang Arab selalu terderet nama ayah-ayah mereka. Mungkin salah satu hikmahnya adalah identifikasi. Tak cuma identifikasi keturunan siapa. Tapi juga wataknya. Kalau kau ingat bapaknya dulu punya suatu sifat mulia, demikian pula kurang lebih anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah zaman di mana orangtua benar-benar dituakan oleh anaknya, dan mereka mendapatkan pendidikannya di madrasah yang tanpa libur dan tanpa jeda. Di rumahnya. Tempat di mana mereka belajar bukan hanya dari apa yang terucap, tapi apa yang dilakukan oleh ayah bundanya. Orangtua adalah guru yang sebenar-benarnya. Mereka <em>digugu</em>, ditaati karena integritas di hadapan anak-anaknya. Dan ditiru, karena memang semua perilakunya membanggakan untuk dijadikan identitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka jadilah masyarakat itu masyarakat yang punya tingkat saling percaya amat tinggi. Kalau kau mau menikahi Hafshah, tak perlu berkenalan dengan Hafshah. Lihatlah saja ’Umar, bapaknya. Nah, Hafshah kurang lebih <em>ya</em> seperti bapaknya. Kalau mau menikah dengan ’Aisyah, tak perlu engkau mengenal ’Aisyah. Coba perhatikan Abu Bakr. Nah, ’Aisyah tak beda jauh dengannya. Maka dalam gelar pun mereka serupa; Abu Bakr dijuluki <em>Ash Shiddiq</em>, dan ’Aisyah sering dipanggil <em>Ash Shiddiqah binti Ash Shiddiq</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sinilah saya berargumen pada sebuah seminar pernikahan yang membuat para pesertanya nyaris tersedak. Ada yang memberi pernyataan, ”Di dalam Islam kan tidak ada pacaran, yang ada ta’aruf.” Kata saya, ”Ta’aruf? Tidak ada dalilnya. Tidak ada asal dan contohnya dari Rasulullah maupun para shahabat. Ini istilah umum yang dipaksakan menjadi istilah khusus pernikahan. Sedihnya lagi, ada yang  menyalahgunakannya. Mengganti istilah, dengan hakikat dan isi yang nyaris sama dengan pacaran. <em>Na’udzu billaahi min dzalik</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Maafkan sekiranya saya berlebihan. Tapi begitulah. Kata <em>ta’aruf </em>artinya ’saling mengenal’ hanya kita temukan dalam Al Quran dalam konteks yang umum.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” <strong>(Al Hujuraat 13)</strong></em></p>
<p style="text-align: center;" align="center">♥♥♥</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi tentu saja sebuah pernikahan yang dimulai dengan hanya mengandalkan rasa saling percaya di dalam suatu masyarakat menjadi penuh resiko di kelak kemudian hari. Apalagi hari ini, ketika kita mudah oleng, tak teguh berpijak pada wahyu dan nurani. Beberapa halaman lewat, pada tajuk <em>Berkelana dalam Pilihan</em> kita sudah menyimak kisah Habibah binti Sahl yang akhirnya memilih mengajukan pisah dari suaminya, Tsabit ibn Qais. Mengapa? Habibah mengukur kekuatan dirinya yang ia rasa takkan sanggup bersabar atas kondisi suaminya yang menurutnya, ”Paling hitam kulitnya, pendek tubuhnya, dan paling jelek wajahnya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, masalahnya adalah Habibah belum pernah melihat calon suaminya itu. Belum pernah. Sama sekali belum pernah. Mereka baru bertemu setelah akad diikatkan oleh walinya. Sebelum berjumpa, dalam diri Habibah muncul harapan sewajarnya akan seorang suami. Dan harapan itu, karena ketidaksiapannya, karena ia belum pernah melihat sebelumnya, menjadi tinggi melangit dan tak tergapai oleh kenyataan. Ia dilanda kekecewaan. Mungkin kisahnya akan lain jika Habibah telah melihat calon suaminya sebelum pernikahan terjadi. Ia punya waktu untuk menimbang. Ia punya waktu untuk bersiap. Ia punya waktu untuk, kata Sang Nabi, ”Menemukan sesuatu yang menarik hati pada dirinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat Imam Abu Dawud, Jabir ibn ’Abdillah mendengar Rasulullah <em>Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam</em> bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian hendak meminang seorang perempuan, jika mampu hendaklah ia melihatnya terlebih dahulu untuk menemukan daya tarik yang membawanya menuju pernikahan.” Maka ketika Jabir hendak meminang, ia rahasiakan maksudnya, dan ia melihat kepada wanita Bani Salamah yang hendak dinikahinya. Ia menemukannya. Hal-hal yang menarik hati pada wanita itu, yang mebuatnya memantapkan hati untuk menikahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Al Mughirah ibn Syu’bah <em>Radhiyallaahu ’Anhu</em>, sahabat Rasulullah yang masyhur karena kehidupan rumahtangganya yang sering dilanda prahara sejak zaman jahiliah, suatu hari ingin meminang seorang shahabiyah, seorang wanita shalihah. Maka Sang Nabi pun berkata padanya, ”Lihatlah dulu kepadanya, suapaya kehidupan kalian berdua kelak lebih langgeng.”</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Subhanallah</em>, inilah pernikahan terakhir Al Mughirah yang lestari hingga akhir hayatnya. Padahal sebelumnya entah berapa puluh wanita yang pernah menemani hari-harinya. Penuh dinamika dalam nikah dan cerai. Itu di antaranya disebabkan ia tak pernah melihat calon isterinya sebelum mereka menikah. Maka dengan menjalani sunnah Sang Nabi, Al Mughirah mendapatkan doa beliau, mendapatkan ikatan hati yang langgeng dan mesra. Demikian disampaikan kepada kita oleh Imam An Nasa’i, Ibnu Majah, dan At Tirmidzi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari mereka kita belajar bahwa syari’at mengajari kita untuk nazhar. Melihat. Melihat untuk menemukan sesuatu yang membuat kita melangkah lebih jauh ke jalan yang diridhai Allah. Melihat untuk menemukan sebuah ketertarikan. Itu saja. Bukan mencari aib. Bukan menyelidiki cela. Bukan mendetailkan data-data. Lihatlah kepadanya. Itu saja. Tentu dengan mestarikan prasangka baik kita kepada Allah, kepada diri, dan kepada sesama.</p>
<p style="text-align: justify;">Di jalan cinta para pejuang, kita melestarikan nilai-nilai nazhar; berbaik sangka kepada Allah, menjaga pandangan dalam batas-batasnya, dan selalu mencari hal yang menarik. Bukan sebaliknya..</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keluarkan Kucing dari Karungnya</strong></p>

<blockquote>
<p style="text-align: justify;" align="right">jangan kau kira cinta datang</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">dari keakraban dan pendekatan yang tekun</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">cinta adalah putera dari kecocokan jiwa</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">dan jikalau itu tiada</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">cinta takkan pernah tercipta,</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">dalam hitungan tahun, bahkan millenia</p>
<p style="text-align: justify;" align="right"><strong>-Kahlil Gibran-</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Jika nazhar telah kita lakukan, sungguh kita telah mengeluarkan kucing dari karungnya. Tak lagi membeli kucing dalam karung. Karena kucing juga tak suka dimasukkan dalam karung. Karena kita juga tak ingin menikah dengan kucing.</p>
<p style="text-align: justify;"> Tapi nazhar itu cukuplah sedikit saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah Malcolm Gladwell, wartawan <em>The New Yorker</em> yang setelah sukses dengan buku <em>Tipping Point</em>-nya, lalu berkelana penjuru Amerika untuk menulis dan merilis buku barunya, <em>Blink: The Power of Thinking without Thinking</em>. Buku tentang berfikir tanpa berfikir. Buku tentang dua detik pertama yang menentukan. Yang dengan pertimbangan dua detik itu, keputusan yang dihasilkan seringkali jauh lebih baik dari riset yang menjelimet. Dalam bukunya, Gladwell membentangkan puluhan riset yang kuat validitasnya dari berbagai ilmuwan terkemuka untuk menjabarkan tesisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua detik pertama mencerap dengan indera itu menentukan. Mahapenting.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejalan dengan riset-riset yang dibabarkan Malcolm Gladwell, Kazuo Murakami, ahli genetika peraih Max Planck Award 1990 itu berkisah bahwa para ilmuwan yang begitu tekun belajar untuk menguasai disiplin ilmunya hingga ke taraf ahli, acapkali tak pernah menghasilkan penemuan besar. Justru ilmuwan yang ‘tak banyak tahu’ seringkali menghasilkan dobrakan-dobrakan mengejutkan. Penemuan akbar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mengapa terlalu banyak tahu terkadang menghalangi kita?”, kata Murakami dalam buku <em>The Divine Message of The DNA</em>. “Sebenarnya bukan informasi itu sendiri yang pada dasarnya buruk; tetapi mengetahui lebih banyak daripada orang lain dapat membuai kita untuk mempercayai bahwa keputusan kita lebih baik.”</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal seringkali dengan banyaknya informasi membanjir, kemampuan otak kita untuk memilah mana informasi yang berguna dan mana yang tak bermakna menjadi menurun. Otak kita bingung menentukan prioritas. Fakta yang kita anggap penting ternyata sampah. Sebaliknya, hal kecil yang kita remehkan justru bisa jadi adalah kunci dari semuanya. Maka, merujuk pada Gladwell dan Murakami, kita memang tak perlu tahu banyak hal. Cukup mengetahui yang penting saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga tentang calon isteri, calon suami, calon pasangan kita. Kita tak perlu tahu terlalu banyak. Cukup yang penting saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Alkisah, seorang lelaki hendak menikah. Maka satu hal saja yang ia persyaratkan untuk calon isterinya; memiliki tiga kelompok binaan pengajian yang kompak padu. Ketika mereka bertemu untuk nazhar sekaligus merencanakan pinangan, sang wanita berkata, “Maaf, saya tidak bisa memasak.” Ini ujian Allah, batin si lelaki. Bukankah dia hanya meminta yang memiliki binaan pengajian? Mengapa harus mundur, ketika sang calon tak bias memasak?</p>
<p style="text-align: justify;">“Insyaallah di Jogja banyak rumah makan”, begitu jawabnya sambil menundukkan senyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan saya juga tidak terbiasa mencuci.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini senyumnya ditahan lebih dalam. Kebangetan juga <em>sih</em>. Tapi ia tahu, ini ujian. Maka katanya, “Insyaallah di Jogja banyak laundry.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ia, sang lelaki tahu apa yang penting. Kejujuran. Keterbukaan. Itu sudah ditunjukkan oleh sang wanita dengan sangat jelas, sangat ksatria. Ia berani mengakui tak bisa memasak dan tak bisa mencuci. Tanpa diminta. Dua hal yang kadang membuat lelaki rewel. Tetapi dia adalah lelaki yang berupaya selalu memiliki visi dan misi. Maka dia mendapatkan sesuatu yang berharga; seorang wanita yang memiliki tiga kelompok binaan kompak padu. Dan itu sangat berarti bagi visi dan misinya dalam membangun keluarga. Selebihnya, siapa juga yang mencari tukang cuci dan tukang masak? Yang dia cari adalah seorang isteri, bukan kedua macam profesi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tahukah anda? Setelah pernikahan berjalan beberapa waktu, ketika merasa diterima apa adanya oleh suami tercinta, sang isteripun mencoba memasak. Ternyata ia pandai. Hanya selama ini ia tak pernah mencoba. Masakannya lezat, jauh melebihi harapan sederhana sang suami. Begitu juga dalam hal-hal lain. Banyak kejutan yang diterima sang suami. Jauh melebihi harapan-harapannya. Dulu, dia memang tak terlalu banyak tahu tentang calon isterinya. Ia cukup mengetahui yang terpenting saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua detik itu sangat menentukan. Mungkin karena dalam dua detik itulah ruh saling mengenal. Mereka saling mengirim sandi. Jika sandi dikenali, mereka akan bersepakat, tanpa banyak tanya, tanpa banyak bicara. Karena sesudah itu adalah saatnya bekerja mewujudkan tujuan bersama. Segera. Jangan ditunda-tunda.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal diantara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal diantara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah.” <strong>(HR Al Bukhari [3336] secara mu’allaq dari ’Aisyah, dan Muslim [2638], dari Abu Hurairah)</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">            Ruh itu seperti tentara. Ada sandi di antara mereka. Jika sandi telah dikenali, tak perlu banyak lagi yang diketahui. Cukup itu saja. Mereka akan bersepakat. Mereka adalah sekawan dan sepihak. Mereka akan bergerak untuk satu tujuan yang diyakini. Jadi apakah yang menjadi sandi di antara para ruh? Iman. Tentu saja. Kadar-kadarnya akan menerbitkan gelombang dalam frekuensi yang sama. Jika tak serupa, jika sandinya tak diterima, ia telah berbeda dan sejak awal tak hendak menyatu.</p>
<p style="text-align: justify;">”Iman”, kata Sayyid Quthb dalam <em>Fii Zhilaalil Quran</em>, ”Adalah persepsi baru terhadap alam, apresiasi baru terhadap keindahan, dan kehidupan di muka bumi, di atas pentas ciptaan Allah, sepanjang malam dan siang. Dan inilah yang diperbuat keimanan. Membuka mata dan hati. Menumbuhkan kepekaan. Menyirai kejelitaan, keserasian, dan kesempurnaan.” Maka biarlah dia yang menjadi ratu penentu, di dua detik pertama <em>nazhar</em> kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Di jalan cinta para pejuang, kita melestarikan nilai-nilai <em>nazhar</em>; berbaik sangka kepada Allah, menjaga pandangan dalam batas-batasnya, dan selalu mencari hal yang menarik. Bukan sebaliknya. Di jalan cinta para pejuang, yang terpenting bukanlah seberapa banyak engkau tahu, tapi bahwa engkau mengetahui yang memang bermakna bagimu. Dan bahwa Allah selalu bersamamu.</p>

<blockquote>
<p style="text-align: justify;" align="right">kecocokan jiwa memang tak selalu sama rumusnya</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">ada dua sungai besar yang bertemu dan bermuara di laut yang satu; itu kesamaan</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">ada panas dan dingin bertemu untuk mencapai kehangatan; itu keseimbangan</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">ada hujan lebat berjumpa tanah subur, lalu menumbuhkan taman; itu kegenapan</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">tapi satu hal tetap sama</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">mereka cocok  karena bersama bertasbih memuji Allah</p>
<p style="text-align: justify;" align="right">seperti segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, ruku’ pada keagunganNya</p>
</blockquote>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://salimafillah.com/nazhar-bukan-sekedar-taaruf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karenamu, Ya RasulaLlah</title>
		<link>http://salimafillah.com/karenamu-ya-rasulallah/</link>
		<comments>http://salimafillah.com/karenamu-ya-rasulallah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Sep 2012 01:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim A. Fillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salimafillah.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Karena tentangmu Ya RasulaLlah, ialah sebaik-baik kisah, seindah-indah cermin, semulia-mulia jalan, semurni-murni teladan.

Karena pada dirimu Ya RasulaLlah; sebening-bening hati, sejernih-jernih jiwa, sedalam-dalam ilmu, setepat-tepat fahaman.

Karena dalam tindakmu Ya RasulaLlah; seikhlas-ikhlas niat, seihsan-ihsan amal, seteguh-teguh prinsip, sejelas-jelas ikutan.

Karena di tiap langkahmu Ya RasulaLlah; seagung agung akhlaq, seluhur-luhur budi, segenap-genap syukur, seutuh-utuh sabar.

Karena pada senarai hela nafasmu Ya RasulaLlah; ada sederu-deru dzikir, sesyahdu-syahdu khusyu', setunduk-tunduk tawadhu'.

Karena detak jantungmu Ya RasulaLlah; segigih-gigih upaya, sesuci-suci doa, sepasrah-pasrah tawakkal, sebenar-benar taqwa.

Karena denyut nadimu Ya RasulaLlah; seberkah-berkah nafkah, setumpah-tumpah sedekah, setebar-tebar da'wah, senyata-nyata jihad.

Karena di deras darahmu Ya RasulaLlah; seruah-ruah perhatian, sedahsyat-dahsyat pengorbanan, sesejuk-sejuk kasih sayang.

Karena ucapanmu Ya RasulaLlah; sefasih-fasih kata, sedalam-dalam makna, sekokoh-kokoh hujjah, setampak-tampak pembuktian.

Karena pribadimulah Ya RasulaLlah; semesra-mesra suami, segagah-gagah ayah, semantap-mantap kakek, seakrab-akrab sahabat.

Karena engkaulah Ya RasulaLlah; setaat-taat hamba, serajin-rajin guru, seberani-berani panglima, sepuncak-puncak pemimpin.

Karena tapak hayatmu Ya RasulaLlah; sejelita-jelita hidup, selurus-lurus titian, seberat-berat liku, sewujud-wujud cinta.

Karena dalam sakaratmu Ya RasulaLlah, kau tegaskan cinta tuk kami; moga kau sambut di telaga, moga kau wasilahi syafa'atNya.

Inilah kami ummatmu; sejenak duduk menyimak sahajamu, mendaras teladanmu, mengkaji sunnahmu, mengittiba' pengabdianmu. Di Majelis Jejak Nabi.

sepenuh cinta,

pelayan Majelis Jejak Nabi]]></description>
		<wfw:commentRss>http://salimafillah.com/karenamu-ya-rasulallah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Tercatat untuk Direnungi</title>
		<link>http://salimafillah.com/yang-tercatat-untuk-direnungi/</link>
		<comments>http://salimafillah.com/yang-tercatat-untuk-direnungi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2012 12:31:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim A. Fillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Pengantar. Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salimafillah.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong> -kata pengantar untuk Menyimak Kicau Merajut Makna-</strong></p>

<blockquote>Pada sesama, “Perhatikan apa yang dikatakan, tak perlu kau lihat siapa pengucapnya.”

Tapi untuk diri, “Sudah seharusnya tiap kita melayakkan diri untuk didengar.”</blockquote>
&#160;
<p style="text-align: justify;">Sebelum kedatangan Imam Asy Syafi’i (150-204 H) ke Kairo, adalah tiga orang murid Imam Malik ibn Anas (93-185 H) yang menjadi muara rujukan bagi kemusykilan penduduk Mesir dan Afrika pada umumnya di zaman itu. Mereka adalah ‘Abdullah ibn Wahab (125-197), ‘Abdurrahman ibn Al Qasim (128-191), dan Asyhab ibn ‘Abdil ‘Aziz Al Qaisi (150-204).</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, antara Imam Asyhab dan Imam Ibn Al Qasim terjadi perbedaan pendapat tajam atas suatu persoalan.  Maka berkatalah Asyhab, “Aku mendengar Malik berkata begini”. Ibn Al Qasim menimpali, “Justru aku mendengar Malik tidak berkata seperti itu, melainkan begini.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku bersumpah”, ujar Asyhab yang termuda itu dengan suara meninggi, “Bahwa ucapanmu itu keliru!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan akupun bersumpah”, sahut Ibn Al Qasim, “Bahwa engkau salah!”</p>
<p style="text-align: justify;">Siapakah yang sanggup menjadi hakim jika dua orang yang ‘alimnya ‘alim dan faqihnya faqih ini berselisih? Dialah Imam Ibn Wahab. Beliaulah satu-satunya. Apakah hal ini tersebab usianya yang lebih tua daripada kedua rekannya?</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan. Bukan tersebab umur beliau disepakati untuk menengahi perdebatan kedua Imam besar tersebut. Ibn Wahab menjadi pengadil semata-mata karena beliaulah murid Malik yang paling tekun dan teliti mencatat setiap kata yang keluar dari lisan Sang Guru. Catatannya pun adalah yang paling rapi dan paling lengkap. Dan Imam Malik mencintainya melebihi murid manapun.</p>
<p style="text-align: justify;">“Malik adalah seorang guru yang keras”, tutur para murid lain, “Tak ada yang selamat dari sifat kerasnya kecuali Ibn Wahab.”</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimanakah mula kiranya kasih sayang Imam Malik tumbuh bagi Ibn Wahab? Alkisah, suatu hari rombongan kafilah dari India sampai di Madinah. Di antara rombongan itu terdapat beberapa ekor gajah dengan derap yang menggemparkan dan suara nyaring memekakkan. Majelis Imam Malik di Masjid Nabawi pun bubar. Para murid berhamburan keluar tersebab rasa penasaran dan tertarik pada gajah-gajah dalam kafilah. Hanya satu pelajar yang tetap duduk sembari terus mencatat dengan rapi. Dialah Ibn Wahab.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa kau tak ingin melihat gajah Nak?”, tanya Imam Malik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Duh Guru”, jawab Ibn Wahab dengan ta’zhim, “Aku jauh-jauh datang dari Mesir untuk melihatmu dan menyimakmu. Bukan untuk menyaksikan gajah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah, selama 20 tahun berikutnya di Madinah, Ibn Wahab selalu berada di sisi Malik dan mencatat segala hal yang meluncur dari lisan mulia sang Imam Daril Hijrah, menguntainya bagai silsilah mutiara, serta menyusunnya dengan teratur agar mudah dipelajari lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke Mesir, jadi apa keputusan Ibn Wahab atas sengketa pemahaman antara Asyhab dan Ibn Al Qasim?</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalian berdua benar, tapi kalian berdua keliru, dan kalian berdua bersalah”, ujar Ibn Wahab. Apa maksudnya? “Kalian berdua benar karena Malik pernah menyampaikan kedua pendapat itu pada kesempatan berbeda. Namun kalian berdua keliru ketika saling menyalahkan. Dan kalian berdua bersalah atas sumpah yang kalian ucapkan dalam membenarkan diri dan mengkelirukan rekannya”, jelas beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">MasyaaLlah, sebuah ketelitian pencatatan membuahkan penghakiman yang adil, lengkap, dan tuntas<em>. RahimahumuLlahu ajma’in</em>.</p>
<p align="center">***</p>
<p style="text-align: justify;">Kumpulan kicauan di jejaring sosial Twitter dalam akun @salimafillah ini dengan susah payah dihimpun oleh Tim Redaksi Penerbit Pro-U Media yang diawaki Akhinda Irin Hidayat. Mungkin saja ketelitian para beliau mendekati keagungan Imam Ibn Wahab yang menakjubkan itu. Tapi yang jelas, antara Imam Malik dan Salim A. Fillah, diri si pemilik akun Twitter, terentang jarak sejauh langit yang megah dengan kubangan lumpur di bawah lembah. Jika kata-kata Imam Malik seumpama mutiara, maka kicauan ini hanya setaraf biji jola-jali jagung, itupun yang <em>gabuk</em>, melompong bagian dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sungguh tersyukuri bahwa ada yang berkenan untuk menghimpunnya dari keterserakan di lini masa. Terharapkan, jika ia dirangkai dalam sebentuk buku, insyaaLlah akan bermanfaat untuk menjadi pembelajaran bagi lebih banyak lagi Shalihin dan Shalihat di aneka tempat.  Atas usaha mulia itu, kami hanya bisa mengucapkan, “Ahsantum, jazakumuLlahu khairan katsira.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setidaknya, bagi diri kami yang lemah ini; ia berguna menjadi pengingat yang mencambuk jiwa. Bahwa kau hai Salim, pernah mengucapkan kalimat semacam ini; tidak malukah kau atas perilakumu kini? Bahwa kau hai Salim, pernah berbusa-busa menasehati sesama; tidak merindingkah kau atas keseharianmu yang jauh darinya? Bahwa kau hai Salim, pernah berkicau begitu ringan tentang kebajikan; adakah kau telah bersesak nafas dalam menjuangkan pengamalan?</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah ‘Umar ibn Al Khaththab berpesan, “Hisablah dirimu, sebelum kelak ‘amalmu diperhitungkan.” Semoga himpunan kicauan di Twitter ini menjadi alat kami bermuhasabah selalu, sarana bercermin tiada henti, dan tempat berkaca atas apa yang telah terkata; adakah ia teramal dalam nyata. Dan semoga dengan demikian, ia memperringan apa yang kelak terjadi di hari penentuan. Termohon doa dari Shalihin dan Shalihat semua; semoga kami tak termasuk orang-orang yang berada dalam penyesalan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan diletakkanlah Kitab. Lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya. Dan mereka berkata, ‘Aduhai celaka kami! Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil, dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada tertulis. Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun.” <strong>(QS Al Kahfi: 49)</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh kumpulan kicauan @salimafillah ‘Menyimak Kicau Merajut Makna’ ini adalah sekedar yang tercatat untuk direnungi. Terutama oleh pengicaunya. Dan jika Shalihin dan Shalihat pembaca berkenan membersamai muhasabahnya, alangkah bahagia dalam syukur hati kami ini. Moga apa yang Shalihin dan Shalihat renungi dari kumpulan kicauan ini mengilhamkan ‘amal shalih yang kamipun tak terhalang dari pahalanya, menjadi bekal menghadap Allah ‘Azza wa Jalla.</p>
<p align="center"><strong>***</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai penutup untuk pengantar sederhana ini, izinkan kami kembali berkisah tentang Imam Asyhab dan Ibn Al Qasim<em>, rahimahumaLlah</em>. Moga keberkahan menjalari hidup kita dari pelajaran agung yang mereka torehkan di jalan ilmu nan penuh keluhuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah Imam Asyhab menghimpun aneka sumber ilmu dari berbagai guru, memilahnya dengan hati-hati, dan menyusunnya dengan teliti menjadi kitab shahih yang diberinya tajuk <em>Al Mudawwanah</em>. Kitab ini dipuji oleh Al Qadhi Iyyadh sebagai “Sangat mulia, besar, dan mengandung begitu banyak ilmu.” Mendengar ihwal kitab tersebut, Imam Ibn Al Qasim segera berkunjung dan membawa juru tulis, mohon diperkenankan untuk menyalin isinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa waktu mempelajari kitabnya, Ibn Al Qasim menulis surat pada Asyhab, memuji dengan tulus akan kebaikan isi kitab tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi dengan kitab itu kau hanya akan mereguk ilmu dari satu mata air”, balas Asyhab, “Sedangkan aku dahulu menyusunnya dengan mengambil dari banyak mata air.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi sumber-sumbermu keruh”, timpal Ibn Al Qasim, “Sedangkan sumberku ini amat jernih.”</p>
<p style="text-align: justify;">Terrasakah pujian indah itu oleh kita para Shalihin dan Shalihat? Ibn Al Qasim menghargai perjuangan hebat Ibn Wahab menelaah ilmu dari aneka guru yang bermacam-macam derajat keshahihannya lalu menghadiahkan baginya sebuah himpunan yang terpilih, yang paling bening dan jernih setelah dengan penuh kesulitan menyaringnya dari campuran yang keruh. “Sumbermu keruh, sedang sumberku jernih”, ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala puji bagi Allah yang mengaruniai kita para ‘ulama yang akhlaq dan ilmunya bagai gugus bintang penuh cahaya. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmatNya menjadi sempurna segala kebaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tamat pengantar sederhana ini, dari hamba Allah yang tertawan dosanya, santri yang tertahan kejahilannya, berharap ada manfaat terbagi walau dalam faqir dan dha’ifnya. Sepenuh cinta.</p>
&#160;

Salim A. Fillah

-pelayan Majelis Jejak Nabi-]]></description>
		<wfw:commentRss>http://salimafillah.com/yang-tercatat-untuk-direnungi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Ukuran Kita Tak Sama</title>
		<link>http://salimafillah.com/karena-ukuran-kita-tak-sama/</link>
		<comments>http://salimafillah.com/karena-ukuran-kita-tak-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 13:58:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim A. Fillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[teladan]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salimafillah.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi</blockquote>


Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah”  ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!” 

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab. 

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”  

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras. 

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!”  ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang. 

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!” 

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“  

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!” 

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya.  Dia bersandar dibaliknya &#038; bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia &#038; RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.  

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras &#038; bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab &#038; ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak.  Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah &#038; dibekalinya bertimbun dinar.


 Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya. 

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”  

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi. 

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada 'Umar ibn 'Abdul 'Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya 'Abdurrahman ibn 'Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. 'Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

"Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan 'Umar" kata lelaki kepada 'Ali, "Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?"

"Sebab," kata 'Ali sambil tersenyum, "Pada zaman Abu Bakar dan 'Umar, rakyatnya seperti aku. 
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!"

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, 'Umar, "Utsman atau 'Ali. 

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa'd ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti. 

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah. 

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi 
tak lagi terpisah sebagai "haq" dan "bathil". Istilah yang tepat adalah "shawab" dan "khatha".

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya. 

Imam Asy Syafi'i pernah menyatakan hal ini dengan indah. "Pendapatku ini benar," ujar beliau,"Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran."

sepenuh cinta,

Salim A. Fillah]]></description>
		<wfw:commentRss>http://salimafillah.com/karena-ukuran-kita-tak-sama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9581</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Kenangan Atas Cinta</title>
		<link>http://salimafillah.com/sebuah-kenangan-atas-cinta/</link>
		<comments>http://salimafillah.com/sebuah-kenangan-atas-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 13:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim A. Fillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salimafillah.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>Tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.</blockquote>


Di perang Uhud, ketika tubuhnya memerisai Rasulullah dan tujuh puluh luka berlomba menguras darahnya, Thalhah ibn ‘Ubaidillah berdoa sambil menggigit bibir. “Rabbii”, begitu lirihnya, “Khudz bidaamii hadzal yauum, hattaa tardhaa. Ya Allah, ambil darahku hari ini sekehendakMu hingga Engkau ridha.” Tombak, pedang, dan panah yang menyerpih tubuh dibiarkannya, dipeluknya badan sang Nabi seolah tak rela seujung bulu pun terpapas.

“Kalau ingin melihat syahid yang masih berjalan di muka bumi”, begitu Sang Nabi bersabda, “Lihatlah pada Thalhah”. Dan Thalhah, yang jalannya terpincang, yang jarinya tak utuh, yang tubuhnya berlumur luka tersenyum malu dan menitikkan air mata. Terlihatlah di pipinya bening luh itu, mengalir di atas darah yang mengering merah.

Tetapi tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Satu hari ia berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya. Rasulullah datang, dan wajah beliau pias tak suka. Dengan isyarat, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”

Satu saat dibisikannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya, akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”

Gumam hati dan ucapan Thalhah disambut wahyu. Allah menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluhtiga surat Al Ahzab, “<em>Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya</em>.”

Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Allah, dan menunaikan umrah dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abi Bakr yang pernah dicintai Thalhah.

Begitulah, tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Sesudah wafatnya ‘Utsman ibn ‘Affan di tangan para pemberontak, fitnah besar itu terjadilah. Thalhah bersama Zubair ibn Al ‘Awwam dan ‘Aisyah memerangi ‘Ali ibn Abi Thalib untuk menuntut bela kematian ‘Utsman, meminta ditegakkannya keadilan atas para pembunuh ‘Utsman yang sebagiannya kini menjadi penyokong utama kekhalifahan ‘Ali ibn Abi Thalib. Keadaan sangat tidak mudah bagi ‘Ali. Pilihan-pilihannya terbatas. Thalhah tahu itu. Tapi dia sendiri juga kesulitan bersikap lain di tengah kedua kubu.

Satu hari, dalam perang yang dikenal sebagai Waq’ah Jamal itu, ‘Ali mengirim utusan, memohon agar bisa berjumpa dengan kedua sahabat yang dicintainya; Thalhah dan Az Zubair. Mereka berdua datang. Mereka bertiga berpelukan. Tak terasa air mata meleleh. Kenangan-kenangan ketika ketiganya bersipadu di sisi Rasulullah berkelebatan dengan indah. Namun kini terasa menyesakkan. Menyakitkan. Dulu pedang mereka seayun, langkah mereka sebaris, tangannya bergandengan. Kini mereka harus berhadapan saling menghunus pedang, dengan mata saling menatap tajam, tapi hati tersembilu.

Dan seolah tak ada jalan selain itu.

Sesudah menyeka air mata, ‘Ali menggenggam jemari Thalhah dan menatap dalam ke wajahnya. Dengan menghela nafas, ‘Ali mencoba menyusun kata. “Ingatkah engkau hai Thalhah, mengapa Allah turunkan ayat tentang hijab bagi isteri Nabi dan mengapa Dia melarang kita untuk menikahi janda beliau?”

Thalhah terisak. Dadanya bergemuruh oleh malu dan sesal. Bahu kekarnya bergeletar.

‘Ali menepuk bahu Thalhah. “Ya”, katanya sambil mengalihkan pandangan, tak sanggup melihat tercabiknya batin Thalhah oleh kata-katanya. Tapi demi perdamaian dan persatuan kembali kaum Muslimin, ‘Ali mau tak mau harus mengatakan ini. Ia menguatkan hati. “Ayat itu turun karena maksud hati dan ucapanmu untuk menikahi ‘Aisyah.”

‘Ali meraba reaksi Thalhah. Lalu Ia melanjutkan sambil menatap tajam pada sahabatnya itu. “Dan kini sesudah beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar wafat, mengapa engkau justru membawa ‘Aisyah keluar dari hijabnya dan mengajaknya mengendarai unta dan berperang di sisimu?”

Thalhah menubruk ‘Ali, memeluk dan menangis di bahunya. Hari itu mereka sepakat berdamai dan menyudahi perang saudara. Dan di hari itu pula, sepulang dari kemah ‘Ali, Thalhah, bersama Az Zubair sahabatnya dibunuh oleh orang-orang yang tak menghendaki perdamaian. Dan ‘Ali ibn Abi Thalib dengan duka yang begitu dalam, sore itu, menggali kubur untuk kedua cintanya.

Seusai pemakaman, ‘Ali menimang putra Thalhah yang masih kecil. Kepada bocah itu dia berbisik. “Nak,’ kata ‘Ali, “Aku sungguh berharap, aku dan ayahmu termasuk orang-orang yang difirmankan oleh Allah di Surat Al Hijr ayat keempatpuluh tujuh; “<em>Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadapan di atas dipan-dipan.</em>”

sepenuh cinta,

Salim A. Fillah]]></description>
		<wfw:commentRss>http://salimafillah.com/sebuah-kenangan-atas-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8231</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Aku Tahu; Allah Bersamaku</title>
		<link>http://salimafillah.com/yang-aku-tahu-allah-bersamaku/</link>
		<comments>http://salimafillah.com/yang-aku-tahu-allah-bersamaku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2012 14:31:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim A. Fillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salimafillah.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[<em>
<blockquote>aku percaya
maka aku akan melihat keajaiban
iman adalah mata yang terbuka
mendahului datangnya cahaya</blockquote>
</em>
 
“Aku”.

Jawaban Musa itu terkesan tak tawadhu’. Ketika seorang di antara Bani Israil bertanya siapakah yang paling ‘alim di muka bumi, Musa menjawab, “Aku”. Tapi oleh sebab jawaban inilah di Surat Al Kahfi membentang 23 ayat, mengisahkan pelajaran yang harus dijalani Musa kemudian. Uniknya di dalam senarai ayat-ayat itu terselip satu lagi kalimat Musa yang tak tawadhu’. “Kau akan mendapatiku, insyaallah, sebagai seorang yang sabar.” Ini ada di ayat yang keenampuluh sembilan.

Di mana letak angkuhnya? Bandingkan struktur bahasa Musa, begitu para musfassir mencatat, dengan kalimat Isma’il putra Nabi Ibrahim. Saat mengungkapkan pendapatnya pada sang ayah jikakah dia akan disembelih, Isma’il berkata, “Engkau akan mendapatiku, insyaallah, termasuk orang-orang yang sabar.”

Tampak bahwa Isma’il memandang dirinya sebagai bagian kecil dari orang-orang yang dikarunia kesabaran. Tapi Musa, menjanjikan kesabaran atas nama pribadinya. Dan sayangnya lagi, dalam kisahnya di Surat Al Kahfi, ia tak sesabar itu. Musa kesulitan untuk bersabar seperti yang ia janjikan. Sekira duapuluh abad kemudian, dalam rekaman Al Bukhari dan Muslim, Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang kisah perjalanan itu, “Andai Musa lebih bersabar, mungkin kita akan mendapat lebih banyak pelajaran.”

​Wallaahu A’lam. Mungkin memang seharusnya begitulah karakter Musa, ‘Alaihis Salaam. Kurang tawadhu’ dan tak begitu penyabar. Sebab, yang dihadapinya adalah orang yang paling angkuh dan menindas di muka bumi. Bahkan mungkin sepanjang sejarah. Namanya Fir’aun. Sangat tidak sesuai menghadapi orang seperti Fir’aun dengan kerendahan hati dan kesabaran selautan. Maka Musa adalah Musa. Seorang yang Allah pilih untuk menjadi utusannya bagi Fir’aun yang sombong berlimpah justa. Dan sekaligus, memimpin Bani Israil yang keras kepala.

​Hari itu, setelah ucapannya yang jumawa, Musa menerima perintah untuk berjalan mencari titik pertemuan dua lautan. Musa berangkat dikawani Yusya ibn Nun yang kelak menggantikannya memimpin trah Ya’qub. Suatu waktu, Yusya melihat lauk ikan yang mereka kemas dalam bekal meloncat mencari jalan kembali ke lautan. Awalnya, Yusya lupa memberitahu Musa. Mereka baru kembali ke tempat itu setelah Musa menanyakan bekal akibat deraan letih dan lapar yang menggeliang dalam usus.

​Di sanalah mereka bertemu dengan seseorang yang Allah sebut sebagai, “Hamba di antara hamba-hamba Kami yang kamu anugerahi rahmat dari arsa Kami, dan Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami.” Padanyalah Musa berguru. Memohon diajar sebagian dari apa yang telah Allah fahamkan kepada Sang Guru. Nama Sang Guru tak pernah tersebut dalam Al Quran. Dari hadits dan tafsir lah kita berkenalan dengan Khidzir.

​Kita telah akrab dengan kisah ini. Ada kontrak belajar di antara keduanya. “Engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar. Dan aku takkan mendurhakaimu dalam perkara apapun!”, janji Musa. “Jangan kau bertanya sebelum dijelaskan kepadamu”, pesan Khidzir. Dan dalam perjalanan menyejarah itu, Musa tak mampu menahan derasnya tanya dan keberatan atas tiga perilaku Khidzir. Perusakan perahu, pembunuhan seorang pemuda, dan penolakan atas permohonan jamuan yang berakhir dengan kerja berat menegakkan dinding yang nyaris rubuh.

Tanpa minta imbalan.

​Alhamdulillah, kita belajar banyak dari kisah-kisah itu. Kita belajar bahwa dalam hidup ini, pilihan-pilihan tak selalu mudah. Sementara kita harus tetap memilih. Seperti para nelayan pemilik kapal. Kapal yang bagus akan direbut raja zhalim. Tapi sedikit cacat justru menyelamatkannya. Sesuatu yang ‘sempurna’ terkadang mengundang bahaya. Justru saat tak utuh, suatu milik tetap bisa kita rengkuh. Ada tertulis dalam kaidah fiqh, “Maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh.. Apa yang tak bisa didapatkan sepenuhnya, jangan ditinggalkan semuanya.”

Kita juga belajar bahwa ‘membunuh’ bibit kerusakan ketika dia baru berkecambah adalah pilihan bijaksana. Dalam beberapa hal seringkali ada manfaat diraih sekaligus kerusakan yang meniscaya. Padanya, sebuah tindakan didahulukan untuk mencegah bahaya. Ada tertulis dalam kaidah fiqh, “Dar’ul mafaasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih.. Mencegah kerusakan didahulukan atas meraih kemashlahatan.”

Dan dari Khidzir kita belajar untuk ikhlas. Untuk tak selalu menghubungkan kebaikan yang kita lakukan, dengan hajat-hajat diri yang sifatnya sesaat. Untuk selalu mengingat urusan kita dengan Allah, dan biarkanlah tiap diri bertanggungjawab padaNya. Selalu kita ingat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sultan yang dimakan fitnah memenjarakan dan menyiksanya. Tapi ketika bayang-bayang kehancuran menderak dari Timur, justru Ibnu Taimiyah yang dipanggil Sultan untuk maju memimpin ke garis depan. Berdarah-darah ia hadapi air bah serbuan Tartar yang bagai awan gelap mendahului fajar hendak menyapu Damaskus.

Ketika musuh terhalau, penjara kota dan siksa menantinya kembali. Saat ditanya mengapa rela, ia berkata, “Adapun urusanku adalah berjihad untuk kehormatan agama Allah serta kaum muslimin. Dan kezhaliman Sultan adalah urusannya dengan Allah.”
 
<strong>Iman dan Keajaiban yang Mengejutkan</strong>

​Subhanallah, alangkah lebih banyak lagi ‘ibrah yang bisa digali dari kisah Musa dan Khidzir. Berlapis-lapis. Ratusan. Lebih. Tapi mari sejenak berhenti di sini. Mari picingkan mata hati ke arah kisah. Mari seksamai cerita ini dari langkah tertatih kita di jalan cinta para pejuang. Mari bertanya pada jiwa, di jalan cinta para pejuang siapakah yang lebih dekat ke hati untuk diteladani?

Musa. Bukan gurunya.

Ya. Karena di akhir kisah Sang Guru mengaku, “Wa maa fa’altuhuu min amrii.. Apa yang aku lakukan bukanlah perkaraku, bukanlah keinginanku.” Khidzir ‘hanyalah’ guru yang dihadirkan Allah untuk Musa di penggal kecil kehidupannya. Kepada Khidzir, Allah berikan semua pemahaman secara utuh dan lengkap tentang jalinan pelajaran yang harus ia uraikan pada Rasul agung pilihanNya, Musa ‘Alaihis Salaam. Begitu lengkapnya petunjuk operasional dalam tiap tindakan Khidzir itu menjadikannya sekedar sebagai ‘operator lapangan’ yang mirip malaikat. Segala yang ia lakukan bukanlah perkaranya. Bukan keinginannya.

Beberapa orang yang menyebut diri Sufi mengklaim, inilah Khidzir yang lebih utama daripada Musa. Khidzir menguasai ilmu hakikat sedang Musa baru sampai di taraf syari’at. Maka seorang yang telah disingkapkan baginya hakikat, seperti Khidzir, terbebas dari aturan-aturan syari’at. Apa yang terlintas di hati menjadi sumber hukum yang dengannya mereka menghalalkan dan mengharamkan. Ia boleh merusak milik orang. Ia boleh membunuh. Ia melakukan hal-hal yang dalam tafsir orang awwam menyimpang, dan dalam pandangan syari’at merupakan sebuah pelanggaran berat.

Imam Al Qurthubi sebagaimana dikutip Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam Fathul Barii, membantah tofsar-tafsir ini. Pertama, tidak ada tindakan Khidzir yang menyalahi syari’at. Telah kita baca awal-awal bahwa semua tindakannya pun kelak bersesuaian dengan kaidah fiqh. Bahkan dalam soal membunuh pun, Khidzir tidak melanggar syari’at karena ia diberi ilmu oleh Allah untuk mencegah kemunkaran dengan tangannya. Alangkah jauh tugas mulia Khidzir dengan apa yang dilakukan para Sufi nyleneh semisal meminum khamr, lalu pengikutnya berkata, “Begitu masuk mulut, khamr-nya berubah menjadi air!”

Tidak sama!

Kedua, setinggi-tinggi derajat Khidzir menurut jumhur ‘ulama adalah Nabi di antara Nabi-nabi Bani Israil. Sementara Musa adalah Naqib-nya para Naqib, Nabi terbesar yang ditunjuk memimpin Bani Israil, seorang Rasul yang berbicara langsung dengan Allah, mengemban risalah Taurat, dan bahkan masuk dalam jajaran istimewa Rasul Ulul ‘Azmi bersama Nuh, Ibrahim, ‘Isa, dan Muhammad.

Maka Musa jauh lebih utama daripada Khidzir.
 
“Hai Musa, sesungguhnya Aku telah melebihkan engkau dari antara manusia, untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara secara langsung denganKu.” (Al A’raaf 144)
 
Ketiga, Allah memerintahkan kita meneladani para Rasul yang kisah mereka dalam Al Quran ditujukan untuk menguatkan jiwa kita dalam meniti jalan cinta para pejuang. Para Rasul itu, utamanya Rasul-rasul Ulul ‘Azmi menjadi mungkin kita teladani karena mereka memiliki sifat-sifat manusiawi. Mereka tak seperti malaikat. Juga bukan manusia setengah dewa. Mereka bertindak melakukan tugas-tugas yang luar biasa beratnya dalam keterbatasannya sebagai seorang manusia.

Justru keagungan para Rasul itu terletak pada kemampuan mereka menyikapi perintah yang belum tersingkap hikmahnya dengan iman. Dengan iman. Dengan iman. Berbeda dengan Khidzir yang diberitahu skenario dari awal hingga akhir atas apa yang harus dia lakukan –ketika mengajar Musa-, para Rasul seringkali tak tahu apa yang akan mereka hadapi atau terima sesudah perintah dijalani. Mereka tak pernah tahu apa yang menanti di hadapan.

Yang mereka tahu hanyalah, bahwa Allah bersama mereka.

Nuh yang bersipayah membuat kapal di puncak bukit tentu saja harus menahan geram ketika dia ditertawai, diganggu, dan dirusuh oleh kaumnya. Tetapi, sesudah hampir 500 tahun mengemban risalah dengan pengikut yang nyaris tak bertambah, Nuh berkata dengan bijak, dengan cinta, “Kelak kami akan menertawai kalian sebagaimana kalian kini menertawai kami.”

Ya. Nuh belum tahu bahwa kemudian banjir akan tumpah. Tercurah dari celah langit, terpancar dari rekah bumi. Air meluap dari tungkunya orang membuat roti dan mengepung setinggi gunung. Nuh belum tahu. Yang ia tahu adalah ia diperintahkan membina kapalnya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya. ‘Alaihis Salaam..

Ibrahim yang bermimpi, dia juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putera tercinta. Anak itu, yang lama dirindukannya, yang dia nanti dengan harap dan mata gerimis di tiap doa, tiba-tiba dititahkan untuk dipisahkan dari dirinya. Dulu ketika lahir dia dipisah dengan ditinggal di lembah Bakkah yang tak bertanaman, tak berhewan, tak bertuan. Kini Isma’il harus dibunuh. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh tangannya sendiri.

Dibaringkanlah sang putera yang pasrah dalam taqwa. Dan ayah mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayau leher sang putera dengan pisau? Ayah mana yang sanggup mengalirkan darah di bawah kepala yang biasa dibelainya sambil tetap menatap wajah? Tidak. Ibrahim terpejam. Dan ia melakukannya! Ia melakukannya meski belum tahu bahwa seekor domba besar akan menggantikan sang korban. Yang diketahuinya saat itu bahwa dia diperintah Tuhannya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya. ‘Alaihis Salaam..

Musa juga menemui jalan buntu, terantuk Laut Merah dalam kejaran Fir’aun. Bani Israil yang dipimpinnya sudah riuh tercekam panik. “Kita pasti tersusul! Kita pasti tersusul!”, kata mereka. “Tidak!”, seru Musa. “Sekali-kali tidak akan tersusul! Sesungguhnya Rabbku bersamaku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Petunjuk itupun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata, “Apa gunanya? Lebih baik dipukulkan ke kepala Fir’aun!” Ya, bahkan Musa pun belum tahu bahwa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. Dan itu cukup baginya. ‘Alaihis Salaam..

Merekalah para guru sejati. Yang kisahnya membuat punggung kita tegak, dada kita lapang, dan hati berseri-seri. Yang keteguhannya memancar menerangi. Yang keagungannya lahir dari iman yang kukuh, bergerun mengatasi gejolak hati dan nafsu diri. Di jalan cinta para pejuang, iman melahirkan keajaiban. Lalu keajaiban menguatkan iman. Semua itu terasa lebih indah karena terjadi dalam kejutan-kejutan. Yang kita tahu hanyalah, “Allah bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
 

<blockquote>Nuh belum tahu bahwa banjir nantinya tumpah
ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai
Ibrahim belum tahu bahwa akan tercawis domba
ketika pisau nyaris memapas buah hatinya
 
Musa belum tahu bahwa lautan kan terbelah
saat ia diperintah memukulkan tongkat
di Badar Muhammad berdoa, bahunya terguncang isak
“Andai pasukan ini kalah, Kau takkan lagi disembah!”
dan kitapun belajar, alangkah agungnya iman</blockquote>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://salimafillah.com/yang-aku-tahu-allah-bersamaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17595</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
